ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN ANAK DENGAN THIPOID

Standard

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN ANAK DENGAN THIPOID

 

A. PENGERTIAN

Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)

Tifus abdominalis adalah suatu infeksi sistem yang ditandai demam, sakit kepala, kelesuan, anoreksia, bradikardi relatif, kadang-kadang pembesaran dari limpa/hati/kedua-duanya. (Samsuridjal D dan heru S, 2003)

 

B. PENYEBAB

Salmonella typhi yang menyebabkan infeksi invasif yang ditandai oleh demam, toksemia, nyeri perut, konstipasi/diare. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia dan kematian. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)

Etiologi demam tifoid dan demam paratipoid adalah S.typhi, S.paratyphi A, S.paratyphi b dan S.paratyphi C. (Arjatmo Tjokronegoro, 1997)

 

C. PATOFISIOLOGIS

Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier.

Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman ke makanan, susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi) yang andal. (Samsuridjal D dan heru S, 2003)

Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)

PATHWAYS

 

Salmonella typhosa

Saluran pencernaan

Diserap oleh usus halus

Bakteri memasuki aliran darah sistemik

 

Kelenjar limfoid          Hati                             Limpa                          Endotoksin

usus halus

 

Tukak                          Hepatomegali              Splenomegali               Demam

 

Pendarahan dan          Nyeri perabaan

perforasi                                                          Mual/tidak nafsu makan

 

Perubahan nutrisi

 

Resiko kurang volume cairan

 

(Suriadi & Rita Y, 2001)

 

 

 

 

 

D. GEJALA KLINIS

Gejala klinis pada anak umumnya lebih ringan dan lebih bervariasi dibandingkan dengan orang dewasa. Walaupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi, tetapi secara garis besar terdiri dari demam satu minggu/lebih, terdapat gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi, serta suhu badan yang meningkat.

Pada minggu kedua maka gejala/tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung, bisa disertai gangguan kesadaran dari ringan sampai berat. Lidah tifoid dan tampak kering, dilapisi selaput kecoklatan yang tebal, di bagian ujung tepi tampak lebih kemerahan. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)

Sejalan dengan  perkembangan penyakit, suhu tubuh meningkat dengan gambaran ‘anak tangga’. Menjelang akhir minggu pertama, pasien menjadi bertambah toksik. (Vanda Joss & Stephen Rose, 1997)

Gambaran klinik tifus abdominalis

Keluhan:

- Nyeri kepala (frontal)                                           100%

- Kurang enak di perut                                           ³50%

- Nyeri tulang, persendian, dan otot                      ³50%

- Berak-berak                                                          £50%

- Muntah                                                                 £50%

Gejala:

- Demam                                                                 100%

- Nyeri tekan perut                                                 75%

- Bronkitis                                                              75%

- Toksik                                                                  >60%

- Letargik                                                                >60%

- Lidah tifus (“kotor”)                                            40%

(Sjamsuhidayat,1998)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap

Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.

  1. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus

  1. Pemeriksaan Uji Widal

Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:

  • Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri
  • Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri
    • Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter.

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. (Widiastuti Samekto, 2001)

 

F. TERAPI

  1. Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapat diberikan secara oral atau intravena, sampai 7 hari bebas panas
  2.  Tiamfenikol. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.
  3. Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim)
  4. Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu
  5. Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari

 

  1. Golongan Fluorokuinolon
  • Norfloksasin              : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
  • Siprofloksasin            : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
  • Ofloksasin                 : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
  • Pefloksasin                : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
  • Fleroksasin                : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
  1. Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001)

 

G. KOMPLIKASI

Perdarahan usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, ensefalopati, bronkopneumonia, hepatitis. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000)

Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung.Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. Pielonefritis, endokarditis, meningitis, osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. (Behrman Richard, 1992)

 

 


H. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DEMAM TIPOID

 

  1. A.  PENGKAJIAN
    1. Riwayat keperawatan
    2. Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epistaksis, penurunan kesadaran

 

  1. B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
    2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual, dan kembung
    3. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan, dan peningkatan suhu tubuh

 

  1. C.  PERENCANAAN
    1. 1.      Mempertahankan suhu dalam batas normal
  • Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia
  • Observasi suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan
  • Berri minum yang cukup
  • Berikan kompres air biasa
  • Lakukan tepid sponge (seka)
  • Pakaian (baju) yang tipis dan menyerap keringat
  • Pemberian obat antipireksia
  • Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat

 

  1. 2.      Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan
  • Menilai status nutrisi anak
    • Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
    • Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
    • Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
    • Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama
    • Mempertahankan kebersihan mulut anak
      • Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
      • Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak

 

  1. 3.      Mencegah kurangnya volume cairan
  • Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap 4 jam
  • Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan: turgor tidak elastis,  ubun-ubun cekung, produksi urin menurun, memberan mukosa kering, bibir pecah-pecah
  • Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
  • Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
    • Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible Water Loss/IWL) dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge
    • Memberikan antibiotik sesuai program

(Suriadi & Rita Y, 2001)

 

 


I. DISCHARGE PLANNING

  1. Penderita harus dapat diyakinkan cuci tangan dengan sabun setelah defekasi
  2. Mereka yang diketahui sebagai karier dihindari  untuk mengelola makanan
  3. Lalat perlu dicegah menghinggapi makanan dan minuman.
  4. Penderita memerlukan istirahat
  5. Diit lunak yang tidak merangsang dan rendah serat

(Samsuridjal D dan Heru S, 2003)

  1. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak
  2. Jelaskan terapi yang diberikan: dosis, dan efek samping
  3. Menjelaskan gejala-gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut
  4. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan.

(Suriadi & Rita Y, 2001)

 


DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit Media Aesculapius. FKUI Jakarta. 2000.
  2. Arjatmo Tjokronegoro & Hendra Utama. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke Tiga. FKUI. Jakarta. 1997.
  3. Behrman Richard. Ilmu Kesehatan Anak. Alih bahasa: Moelia Radja Siregar & Manulang. Editor: Peter Anugrah. EGC. Jakarta. 1992.
  4. Joss, Vanda dan Rose, Stephan. Penyajian Kasus pada Pediatri. Alih bahasa Agnes Kartini. Hipokrates. Jakarta. 1997.
  5. Ranuh, Hariyono dan Soeyitno, dkk. Buku Imunisasi Di Indonesia, edisi pertama. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2001.
  6. Samsuridjal Djauzi dan Heru Sundaru. Imunisasi Dewasa. FKUI. Jakarta. 2003.
  7. Sjamsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. EGC. Jakarta. 1998.
  8. Soegeng Soegijanto. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba Medika. Jakarta. 2002.
  9. Suriadi & Rita Yuliani. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. CV Sagung Seto. Jakarta. 2001.
  10. Widiastuti Samekto. Belajar Bertolak dari Masalah Demam Typhoid. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. 2001.
  11. http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2005/02/03brk

INJEKSI

Standard

BAB I

I N J E K S I

 

  1. A.   LATAR BELAKANG

Salah satu tugas terpenting dari seorang perawat adalah memberikan obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah klien. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila tidak tepat diberikan.

Seorang perawat memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan.

Adapun rute pemberian obat dibedakan atas beberapa rute antara lain secara iral, parenteral, pemberian topical, inhalasi, dan intraokuler. Rute pemberian obat dipilih berdasarkan kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondisi fisik dan mental klien.

Maka dari itu pada makalah ini akan dibahas salah satu rute pemberian obat yaitu rute parenteral, memberikan obat dengan menginjeksinya ke dalam jaringan tubuh.

 

  1. B.   TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dari makalah ini adalah untuk memahami teknik pemberian obat secara injeksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.   PENGERTIAN INJEKSI

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.

Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril.

 

  1. B.   TUJUAN INJEKSI

Pada umumnya Injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.

 

  1. C.   INDIKASI

Injeksi biasanya dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Apabila klien tidak sadar  atau bingung, sehingga klien tidak mampu menelan atau mempertahankan obat dibawah lidah. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan obat klien dilakukan denganpemberian obat secara injeksi.

Selain itu, indikasi pemberian obat secara injeksi juga  disebabkan karena ada beberapa obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormon), atau tidak direarbsorbsi oleh usus. Pemberian injeksi bisa juga dilakukan untuk anastesi lokal.

 

  1. D.   PERALATAN

Alat yang digunakan untuk injeksi terdiri dari spuit dan jarum. Ada berbagai spuit dan jarum yang tersedia dan masing-masing di desain untuk menyalurkan volume obat tertentu ke tipe jaringan tertentu. Perawat berlatih memberi penilaian ketika menentukan spuit dab jarum mana yang paling efektif.

 

 

  1. Spuit

Spuit terdiri dari tabung (barrel) berbentuk silinder dengan bagian ujung (tip) di desain tepat berpasangan dengan jarum hypodermis dan alat pengisap (plunger) yang tepat menempati rongga spuit. Spuit, secara umum, diklasifikasikan sebagai Luer –lok atau nonLuer-lok. Nomenklatur ini didasarkan pada desain ujung spuit.

Adapun  tipe-tipe spuit yaitu:

  1. Spuit Luer-lok yang ditandai dengan 0,1 persepuluh
  2. Spuit tuberkulin yang ditandai dengan 0,01 (seperseratus) untuk dosis kurang dari 1 ml
  3. Spuit insulin yang ditandai dalam unit (100)
  4. Spuit insulin yang ditandai dengan unit (50)

 

Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 sampai 60 ml. Tidak lazim menggunakan spuit berukuran lebih besar dari 5 ml untuk injeksi SC atau IM. Volume spuit yang lebih besar akan menimbulkan rasa ynag tidak nyaman. Spuit yang lebih besar disiapkan untuk injeksi IV.

Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam dalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Untuk mempertahankan sterilitas, perawat menghindari objek yang tidak steril menyentuh ujung spuit atau bagian dalam tabung, hub, badan pengisap, atau jarum.

  1. Jarum

Supaya individu fleksibel dalam memilih jarum yang tepat, jarum dibingkus secara individual. Beberapa jarum tudak dipasang pada spuit ukuran standar. Klebanyakan jarum terbuat sari stainless steel dan hanya digunakan satu kali

Jarum memiliki tiga bagian: hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat; dan bevel, yakni bagian ujung yang miring.

Setiap Jarum memiliki tiga karaktreisrik utama: kemiringan bevel, panjang batang jarum, dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang dan lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa ridak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari ¼ sampai 5 inci. Perawat memilih panjang jarum berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi obat.

Semakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. Seleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan.

 

 

 

  1. E.   PROSES INJEKSI

Memberikan injeksi merupaka prosedur invasif yang harus dilakukandengan menggunakan teknik steril. Setelah jarum menembus kulit, muncul resiko infeksi. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC, IM, ID, dan IV. Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantung pada kecepatan absorbsi obat. Perawat mengobservasi respons klien dengan ketat.

Setiap rute injeksi unik berdasarkan tipe jaringan yang akan diinjeksi obat. Karakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi obat dan awitan kerja obat. Sebelum menyuntikkan sebuah obat, perawat harus mengetahui volume obat yang diberikan, karaktersitik dan viskositas obat, dan lokasi struktur anatomi tubuh yang berada di bawah tempat injeksi.

Konsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi tidak diberikan secara tepat. Kegagalan dalam memilih tempat unjeksi yang tepat, sehubungan dengan penanda anatomis tubuh, dapat menyebabkan timbulnya kerusakan saraf atau tulang selama insersi jarum. Apabila perawat gagal mengaspirasi spuit sebelum menginjeksi sebiah obat, obat dapat tanpa sengaja langsung di injkesi ke dalam arteri atau vena. Menginjeksi obat dalam volume yang terlalu besar di tempat yang dipilih dapat menimbulkan nyeri hebat dan dapat mengakibatkan jaringan setempat rusak.

Banyak klien, khususnya anak-anak takut terhadap injeksi. Klien yang menderita penyakit serius atau kronik seringkali diberi banyak injeksi setiap hari. Peraway dapat berupaya meminimalkan rasa nyeri  atau tidak nyaman dengan cara:

  1. Gunakan jarum yang tajam dan memiliki bevel dan panjang serta ukurannya paling kecil, tetapi sesuai.
  2. Beri klien posisi yang nyaman untuk mengurangi ketegangan otot
  3. Pilih tempat injkesi yang tepat dengan menggunakan penanda aanatomis tubuh
  4. Kompres dengan es tempat injeksi untuk menciptakan anastesia lokal sebelum jarum diinsersi
  5. Alihkan perhatian klien dari injeksi dengan mengajak klien bercakap-cakap
  6. Insersi jarum dengan perlahan dan cepat untuk meminimalkan menarik jaringan
  7. Pegang spuit dengan mantap selama jarum berada dalam jaringan
  8. Pijat-pijat tempat injeksi dengan lembut selama beberapa detik, kecuali dikontraindikasikan

 

  1. F.    MACAM-MACAM INJEKSI

Pemberian obat secara parenteral (harfiah berarti di luar usus) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, kuat, dan lengkap atau obat untuk obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormone), atau tidak direarbsorbsi usus (streptomisin), begitupula pada pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama. Keberatannya adalah lebih mahal dan nyeri, sukar digunakan oleh pasien sendiri. Selain itu, adapula bahaya terkena infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat.

  1. Subkutan/sc  (hypodermal).

Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan melarut baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada penyakit gula.

Tempat yang paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi area vaskular di sekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan bagian anterior paha. Tempat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah abdomen. Tempat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah ventral atas atau gloteus dorsal. Tempat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya.

Obat yang diberikan melalui rute SC hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5 sampai 1 ml). Jaringan SC sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume besar. Kumpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit.

  1. Intrakutan/ic (=di dalam kulit)

Perawat biasanya memberi injeksi intrakutan untuk uji kulit. Karena keras, obat intradermal disuntikkan ke dalam dermis. Karena suplai darah lebih sedikit, absorbsi lambat.

Pada uji kulit, perawat harus mampu melihat tempat injeksi dengan tepat  supaya dapat melihat perubahan warna dan integritas kulit. Daerahnya harus bersih dari luka dan relatif tidak berbulu. Lokasi yang ideal adalah lengan bawah dalam dan punggung bagian atas.

 

 

  1. Intramuskuler  (i.m),

Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah.  Dengan  injeksi di dalam otot  yang terlarut berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Guna memperlambat reabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, umpamanya suspensi penisilin dan hormone kelamin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot pantat yang tidak banyak memiliki pembuluh dan saraf.

Tempat injeksi yang baik untuk IM adalah otot Vastus Lateralis, otot Ventrogluteal, otot Dorsogluteus, otot Deltoid.

  1. Intravena (i.v),

Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini “benda asing” langsung dimasukkan ke dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi i.v sebaiknya dilakukan amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya.

  1. Intra arteri.

Injeksi ke pembuluh nadi adakalanya dilakukan untuk “membanjiri” suatu organ, misalnya hati, dengan obat yang sangat cepat diinaktifkan atau terikat pada jaringan, misalnya obat kanker nitrogenmustard.

 

  1. Intralumbal (antara ruas tulang belakang pinggang), intraperitoneal (ke dalam ruang selaput perut), intrapleural, intracardial, intra-articular (ke celah-celah sendi) adalah beberapa cara injeksi lainnya untuk memasukkan obat langsung ke tempat yang diinginkan.

 

  1. G.   HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKUKAN INJEKSI

Pemberian obat secara injeksi dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka kita harus memperhatikan beberapa hal berikut ini :

  1. Jenis spuit dan jarum yang digunakan
  2. Jenis dan dosis obat yang diinjeksikan
  3. Tempat injeksi
  4. Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi
  5. Kondisi/penyakit klien

 

  1. H.   CARA MENCEGAH INFEKSI SELAMA INJEKSI

Salah satu efek yang bisa ditimbulkan dari pemberian obat secara injeksi adalah dapat menimbulkan infeksi. Adapun cara-cara yang dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi selama injeksi dilakukan yaitu :

  1. Untuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat. Jangan   biarkan ampul dalam keadaan terbuka
  2. Untuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis: sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum, tangan perawat, bagian atas wadah obat, permukaan meja)
  3. Untuk mencegah spuit terkontaminasi jangan sentuh badan pengisap (plunger) atau bagian dalam karet (barrel). Jaga bagian ujung spuit tetap tertututp penutup atau jarum.
  4. Untuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kototran, drainase atau feses dengan sabun dan air lalu keringkan. Lakukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptic. Usap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci.

 

 

 

  1. I.      KONTRA INDIKASI

Resiko infeksi dan obat yang mahal. Klien berulang kali disuntik. Rute SC, IM, dan itradermal dihindari pada klien yang cenderung mengalami perdarahan. Resiko kerusakan jaringan pada injeksi SC.  Rute IM dan IV berbahaya karena absorbsinya cepat. Rute ini menimbulkan rasa cemas yang cukup besar pada klien , khususnya anak-anak.

 

Kalkulasi dosis Injeksi

Rumus

Untuk menentukan jumlah cc yang akan disuntikan

 

Dosis yang diminta

Dosis yang tersedia

X =                                x volume dosis yang tersedia

 

CONTOH, Soal

Di instruksikan untuk menyuntik ampicilin 200 mg, tersedia vial dengan label 1000 mg/1 g /10 ml (cairan/aqua pro inj)

Berapa ml yang akan di suntikkan/diberikan

 

Jawab

X =   x 10 ml = 2 ml

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIK MENYUNTIK

 

  1. A.   PENGGUNAAN OBAT SECARA PARENTERAL

Parenteral artinya rute tidak melalui usus, atau secara umum dikatakan injeksi atau suntik.

Injeksi adalah sedian berupa larutan, emulsi atau suspensi dalam air atau cairan pembawa lain yang cocok, steril dan digunakan secara parenteral.

  1. Macam-macam bentuk sedian obat secara parenteral
  1. Berupa larutan dalam air
  2. Berupa larutan dalam minyak
  3. Berupa suspensi obat padat dalam aqua (ex. Hidrocortison asetat)
  4. Berupa suspensi dalam minyak (ex. Penisilin dalam minyak)
  5. Berupa emulsi (mikroemulsi) biasanya obat hormon
  6. Berupa kristal steril untuk dibuat larutan dengan penambahan pelarut (aqua steril) ex. Penisilin g
  7. Cairan infus
  8. ampul, merupakan takaran tunggal untuk dosis tunggal
  9. vial atau flakon merupakan wadah takaran berganda yang dibuat dari gelas dengan tutup karet dan diluarnya dengan tutup kap alumunium
  10. botol infus, biasanya isinya 500 ml untuk intra vena
  11. injeksi intrakutan/intradermal (i.k/i.d) disuntikan sedikit (0,1-0,2 ml) untuk keperluan diagnosa.
  12. Injeksi subcutan/hipodermik ((s.k/h.d) disuntikan dibawah kulit
  13. Ijeksi intramuskuler (i.m) disuntikan masuk ke otot/daging.
  14. Injeksi intravena (i.v) suntikan didalam pembuluh darah. Larutan injeksinya harus betul-betul jernih.
  15. Injeksi intratekal (i.t) , intra spinal intradural, disuntikan kedalam sum-sum tulang belakang ( antara 3-4 atau 5-6 lembar vertebra)
  16. Injeksi intraperitonial (i.p) disuntikan langsung kedalam rongga perut (jarang dipakai)
  17. Injeksi peridural (p.d) extradural) disuntikan kedalam epidural diatas duramater, lapisan penutup otak terluar dan sum-sum tulang belakang
  18. Intrasisternal (s.) disuntikan kedalam saluran sum-sum tulang belakang dasar otak
  19. Intracardial (i.k.d) langsung kedalamjantung.
  1. Wadah untuk larutan/obat injeksi dapat berupa :
  1. Macam-macam rute penggunaan obat secara parenteral

 

  1. B.    KETRAMPILAN KLINIK MENYUNTIK INTRAMUSKULER

Pengertian

Menyuntik merupakan prosedur dasar yang wajib diketahui oleh setiap dokter dan paramedis, menyuntik dapat dilakunan dengan cara, intramuskuler, subkutan, intracutan, intravena.

Pada pembahasan berikut akan dibahas prosedur menyuntik Intramuskuler dan seluruh persiapan peralatan yang diperlukan serta informconsent kepada pasien.

  1. Alat dan bahan (injection kit) :
    1. Kran air
    2. Sabun (jika mungkin sabun cair/sabun antiseptik)
    3. Handuk bersih dan kering
    4. Sepasang sarung tangan
    5. Baki instrument
    6. Instrument basin dengan tutup
    7. Jarum suntik steril :
    8. Untuk penyuntikan IM terdiri dari :

Jarum ukuran #23 G ½ #25 G ½ (semakin besar nomor jarum ukuran lubang jarum semakin kecil)

Syringe : tergantung pada volume obat yang akan diberikan, tersedia mulai ukuran 50, 20, 10, 5, 3, 2,5, 1 cc.

  1. Kapas kering
  2. Kassa steril (ukuran 2×2 cm)
  3. Alkohol (70-90%)
  4. Obat injeksi (dalam bentuk vital, ampule, bubuk kering+pelarutnya)
  5. Jarum suntik
  6. Larutan dekointaminasi, isi lar. Chloride 0,5%
  7. Basin kidney/nierbecken
  8. Tempat jarum bekas
  9. Tempat pembuangan sampah

 

Siapkan antidotum : adrenalin (ingat komplikasi segera dan fatal proses penyuntikan reaksi anafilaktik, komplikasi lain a.1 : luka, kolaps vena, infeksi : abses, emboli)

 

PENDAHULUAN

Perkenalkan diri anda ; “Selamat siang Bu, saya Bidan LALA , yang akan memeriksa dan merawat Ibu.”

Tanyakan identitas pasien dan lakukan cross cek dengan catatan medik pasien.

Cek data pada catatan medik pasien untuk mengidentifikasi pengobatan yang akan diberikan pada pasien ini, nama, obat, dan cara pemberian.

 

LAKUKAN INFORMED CONSENT

Katakan pada pasien bahwa kita akan melakukan proses penyuntikan : “Bu, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Ibu memerlukan pengobatan dengan cara melakukan penyuntikan dibagian bokong Ibu”.

Katakan pada pasien : nama obat, cara pemberian, dosis, dan efek akibat pemberian obat : “Bu, saya akan memberi obat delladryl, dengan cara melakukan penyuntikan di bagian bokong, sebanyak 1cc dan akan terasa sakit sedikit.”

Berikan kesempatan diskusi/kesempatan bertanya pada pasien : “ apakah ada yang Ibu ingin tanyakan lagi ?” “Jika tidak, saya akan melakukan penyuntikan” “Silahkan Ibu berbaring di tempat periksa”.

 

PERSIAPAN

  1. Nilai apakah pada proses penyuntikan ini perlu asisten/tidak (terutama pada pasien yang tidak kooperatif).
  2. Lakukan pemeriksaan tekanan darah (bila belum dilakukan)
  3. Lakukan pengecekan apakah seluruh peralatan yang dibutuhkan sudah tersedia.
  4. Lakukan pengecekan dan konfirmasi ulang pada pasien seluruh informasi yang berkaitan dengan proses penyuntikan yang akan dilakukan, termasuk nama obat, larutan dan pelarutnya, dosis, cara pemberian, jenis, dan ukuran jarum suntik yang akan digunakan untuk menyuntik.
  5. Buka jarum suntik dan jarumnya, letakkan kedalam instrumen basin steril.
  6. Cuci tangan (secara simple hand washing, melalui 5 tahap pencucian : telapak tangan, tangan bagian atas, sela jari, sela jempol, buku-buku) kemudian keringkan dengan handuk bersih kering atau handdrier.

 

PELAKSANAAN PENYUNTIKAN

  1. Dari Vial
    1. Lepaskan penutup metal pada bagian atas vial (dengan menggunakan pinset) dan letakkan pada kidney basin.
    2. Bersihkan bagian atas vial dengan kapas dan alkohol, biarkan mengering.
    3. Buang kapas alkohol kedalam instrumen basin.
    4. Ambil jarum suntik dan lepaskan penutup jarum dengan teknik satu tangan. Letakkan penutup jarum pada instrumen basin.
    5. Campur dengan rata obat yang terdapat pada vial.
    6. Tusuk jarum pada vial.
    7. Ambil vial dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan) dan ambil volume yang sesuai untuk pengobatan.
    8. Periksa ada tidaknya gelembung udara pada jarum suntik dan dikeluarkan gelembung udara tersebut.
    9. Periksa ulang volume yang sesuai yang diperlukan untuk pengobatan
    10. Lepaskan jarum dari vial.
    11. Masukkan jarum pada penutupnya dengan teknik satu tangan.
    12. Ganti jarum dengan yang baru dan letakkan jarum yang telah dipergunakan sebelumnya (untuk mengambil obat dari vial) pada instrumen basin.

 

  1. Dari Ampul
    1. Pastikan bahwa isi cairan obat dalam ampul terletak di bagian bawah dari leher ampul.
    2. Patahkan leher ampul dengan cara sbb :

1)    Potong leher ampul dengan kassa steril dan patahkan dengan menekan jari jempol.

2)    Menggunakan pisau pemotong botol yang biasa dipergunakan oleh bagian farmasi.

  1. Ambil jarum suntik dan lepaskan penutup jarum dengan teknik satu tangan. Letakkan penutup jarum pada instrumen basin.
  2. Pegang ampul dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan) jika memungkinkan.
  3. Masukkan jarum kedalam ampul dan ambil volume obat sesuai.
  4. Tarik kembali jarum dari dalam ampul.
  5. Arahkan jarum secara vertikal dan masukkan kedalam penutupnya.
  6. Keluarkan gelembung udara dalam syringe.
  7. Cek ulang secara tepat volume obat yang diberikan.
  8. Lepaskan jarum dari syringe dengan teknik satu tangan.
  9. Letakkan syringe dan jarumnya pada instrument basin.

 

PROSESDUR MENYUNTIK

  1. Periksa kembali vial atau ampul untuk mengecek label obat yang akan diberikan (untuk ketiga kalinya) dan lakukan penghitungan kembali dosis yang diperlukan.
  2. Jelaskan sekali lagi bahwa kita akan melakukan penyuntikan.
  3. Secara santun konfirmasi ulang kepada pasien/bantu pasien menyingkirkan tempat yangg akan dilakukan penyuntikan.
  4. Tentukan daerah penyuntikan dengan tepat.
  5. Untuk penyuntikan intramuskular :
    1. Identifikasi daerah penyuntikan secara anatomis dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan).
    2. Lakukan peregangan pada area tersebut dengan gentle.
    3. Bersihkan area tersebut dengan kapas dan alkohol.
    4. Biarkan mengering.
    5. Lepaskan penutup jarum, letakkan penutupnya pada instrument basin.
    6. Suntikkan jarum membentuk 90% pada daerah yang telah diidentifikasi untuk dilakukan penyuntikan.
    7. Yakin bahwa ujung jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan melakukan prosedur sbb :

1)        Lakukan aspirasi dengan cara menarik pendorong jarum suntik (plunger).

2)        Jika darah mengisi syringe, atur kembali kedalaman invasi jarum. Kemudian lakukan aspirasi kembali (tarik kembali plunge).

3)        Jika terdapat darah pada syringe maka dapat dilanjutkan prosedur berikutnya.

4)        Dorong plunge secara perlahan untuk mengalirkan seluruh obat dalam syringe.

5)        Tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat, usap dan lakukan massage (jika diperlukan) pada area penyuntikan dengan kapas alkohol.

Observasi :

Jika darah keluar dari tempat penyuntikan, bersihkan dan lakukan penekanan dengan gentle daerah penyuntikan dengan kapas dan alkohol.

Jika tidak, lakukan langkah berikutnya.
Katakan pada pasien bahwa prosedur penyuntikan telah selesai.
Dampingi dan bantu pasien untuk mengenakan kembali pakaiannya.
Evaluasi keadaan pasien selama beberapa saat, untuk melihat tanda ada tidaknya efek samping yang ditimbulkan.
Biarkan pasien kembali kebangku periksa.

 

Setelah Penyuntikan

  1. Isi jarum suntik bekas pakai dengan lar. Chloride 0,5% dan potong jarum, masukkan kedalam tempat jarum bekas.
  2. Masukkan peralatan lainnya (termasuk kapas, kassa steril) kedalam lar. Chloride 0,5%.
  3. Rendam kedua tangan kedalam lar. Chloride 0,5% selama beberapa menit, kemudian lepaskan kedua sarung tangan dengan cara skin to skin, glove to glove.
  4. Cuci tangan.
  5. Keringkan dengan handuk.

 

Persilahkan pasien kembali ke meja periksa, untuk melengkapi data pada catatan medik pasien

  1. Isi tanggal dan waktu pengobatan.
  2. Dosis dan cara penyuntikan
  3. Respons khusus yang mungkin timbul pada pasien setelah dilakukan penyuntikan.
  4. Nama dan tanda tangan perawat

Sumber : Ilmu kedokteran

 

 

ANATOMI SALURAN PERNAFASAN/RESPIRASI

Standard

anatomi saluran nafas

fisiologi saluran nafas

ANATOMI SALURAN PERNAFASAN/RESPIRASI

PENGERTIAN RESPIRASI

Respirasi adalah peristiwa terjadinya oksigen (udara) dari luar Masuk kedalam tubuh (inspirasi) dan karbondioksida yang berada didalam tubuh  keluar (ekspirasi) tubuh melalui proses pernapasan.

Pernapasan secara umum berguna untuk

1.   Mengambil udara masuk kedalam paru-paru

2.   Mengeluarkan Co2 dari hasil sisa pembakaran

3.   Melindungi system pernapasan dari jaringan pathogen

4.   Pembentukan komonikasi

 

SALURAN NAPAS BAGIAN ATAS

  1. Rongga hidung
  2. Faring

Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)

Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah)

Laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

 

SALURAN NAPAS BAGIAN BAWAH

  1. Laring : yang merupakan batas saluran atas dan bawah

Terdiri dari tiga struktur yang penting

-         Tulang rawan krikoid

-         Selaput/pita suara

-         Epilotis/Glotis

  1. Trakhea

Merupakan pipa silider dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan  oleh membran fibroelastic menempel pada dinding depan usofagus.

  1. Bronkhus

Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini disebut carina.

Brochus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan trachea.

Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius, inferior.

Brochus kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior

  1. Paru

Merupakan  jalinan atau susunan bronkhiolus, bronkhiolus terminalis, bronkhiolus respiratory, alveoli, sirkulasi paru, syaraf, sistem limfatik.

 

Rongga dan Dinding Dada/thorax

Rongga ini terbentuk oleh:

-         Otot –otot interkostalis

-         Otot – otot pektoralis mayor dan minor

-         Otot – otot trapezius

-         Otot –otot seratus anterior/posterior

-         Kosta- kosta dan kolumna vertebralis

-         Kedua hemi diafragma

 

Yang secara aktif mengatur mekanik respirasi.

 

PEMBAHASAN

1.   HIDUNG

Hidung salah satu panca indra manusia, befungsi untuk penciuman dan untuk pernapasan. Rongga hidung atau cavitas nasi dibentuk oleh tulang-tulang serta jaringan lunak dibagian anterior. Didepan lubang hidung dinamakan nares, dibelakang berhubungan dengan nasofaring melalui coanae. Segera setelah memasuki lubang hidung didapati daerah yang mengandung bulu hidung, dinamakan vestibulum nasi

Pada dinding hidung terlihat conca nasi superior, meatus nasi superior, concha nasalis media, concha nasi inferior.

Ditengah cavitas nasi dibagi menjadi 2 bagian oleh septum nasi yang dibentuk oleh bagian tulang (pars ossea) bagian rawan (pars cartilaginea) dan pars membranacea. Bagian tulang terdiri dari lamina perpendicularis ossis etmoidal dan os vomer, dan bagian tulang rawan melekat dianteriornya.ndasar cavitas nasi dibentuk oleh palatum durum (tulang) dan palatum molle (jaringan lunak)

Secara histologis didapatkan cavitas nasi dilapisi mucosa yang dibentuk sel silindris bertingkat bersillia (epitel repirasi) yang melekat erat pada periosteum/perichondrium. Jaringan submucosa tidak tampak. Pada concha nasalis inferior jaringan submucosa ini diisi oleh sinusoid yang berisi darah.

Secara fungsional hidung terbagi menjadi

  1. Area respirasi di dua pertiga bagian bawah
  2. Area olfaktorius dipertiga bagian atas

 

SINUS PARANASALIS

Sinus paranasalis dilihat anterior

Adalah rongga yang terdapat didalam tulang seputar rongga hidung. Termasuk disini sinus frontalis, sinus maksilaris, cellulae etmoidalis anterior;posterior; dan sinus spenoidalis. Masing-masing didalam tulang dengan nama yang sama

 

 

 

 

 

 

 

PEMBULUH DARAH DIHIDUNG

Pembuluh darah arteri yang mengurus hidung

 

 

conca nasalis superior

Conca Nasalis media

A.ehmoidalis posterior

A.        Palatina mayor

Conca nasalis inferior

A.        Sphenpalatina. R.lateralisa

Rami alaris ,

A. lateralis nasi

 

 

  1. Etmoidalis anterior

N. nasalis externa

 

Aliran darah vena dari dinding lateral hidung

 

 

 

Rongga hidung mendapat darah dari arteri spenopalatina, cabang terminal arteri maxilaris, dari arteri etmoidalis anterior,  dan arteri etmoidalis superior, cabang arteri opthalmica dan dari cabang arteri palatine major. Arteri sphenopalatina memasuki rongga hidung melalui foramen pterigopalatinum. Arteri ini mempercabangkan :

  1. Rami posterolateral yang bersama dengan arteria etmoidalis anterior mengurus sekitar concha dan meatus.
  2. Rami septalis yang bersama cabang arteri palatine major dan cabang arteri etmoidalis anterior dan arteri etmoidalis posterior, cabang arteria facialis mengurus septum nasi. Arteri palatina major masuk rongga hidung lewat foramina incisivum

Tempat anatomose yang kaya akan pembuluh darah terdapat dibagian depan septum nasi. Area ini dikenal sebagai area kieselbach yang mudah mengalami perdarahan (epistaksis).

Sistim vena dihidung meneruskan darah vena kevena jugularis externa. Disamping itu ada juga darah yang dialirkan kevena facialis dan vena angularis melalui vena sphenopalatina yang selanjutnya dialirkan ke sinus cavernosus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERSARAFAN HIDUNG

Serabut saraf sensoris yang mengurus hidung

 

 

Rr.Nasalis posterior inferior anterior

N. nasopatalinus

N.alveolaris superior anterior

N.infraorbitalis

N.etmoidalis anterior

Foramen sphenopalatinum

N.olfaktorius

Bulbus olfaktorius

N.etmoidalis anterior

Persarafan sensoris rongga hidung diurus oleh cabang nervus trigeminus, yaitu nervus optalmicus dan nervus maksilaris. Cabang nervus optalmicus adalah nervus etmoidalis anterior yang memasuki rongga hidung melalui foramen etmoidalis anterior, mengurus sensasi didaerah bagian anterior aeptum nasi dan dinding lateral.

Nervus maksilaris memberi cabang nervus palatinus major yang mengurus concha inferior, meatus inferior dan meatus medius. Selain itu, serabut saraf sensoris ini (=nervus maxilaris) yang melewati ganglion pterigopalatinum (suatu ganglion parasimpatis), mempercabangkan :

  1. Rami nasals  posterior superior lateral mengurus concha media dan concha superior
  2. Rami nasals posterior medialis mengurus atap serta bagian posterior rongga hidung.

Atap rongga hidung atau area olfaktorius mempunyai persyarafan sensoris umum melalui saraf tersebut diatas, dan sensasi khusus (penciuman) melalui nervus olfaktorius. Serabut nervus olfaktorius menembus lamina cribrosa mencapai bagian bawah otak membentuk bulbus olfatorius.

Sinus paranasalis juga mendapat persarafan sensoris melalui nervus trigeminus. Didalam sinus maksilaris terdapat cabang-cabang nervus maksilaris yang mengurus gigi.

  1. 2.      Faring (tekak)

Bagian tubuh manusia dibelakang hidung,. Sesuai dengan letaknya paring dibagi menjadi :

  1. Pars nasalis pharingis (=nasofaring) terletak dibelakang hidung, posterior terhadap choanae.
  2. Pars oralis pharyngis (=orofaring) terletak dibelakang mulut, posterior terhadap isthmus faucium
  3. Pars laryngea pharyngis (= laryngopharing) terletak dibelakang laring posterior terhadap aditus laringis.

Disebelah atas faring berbatasan dengan basis cranii sampai tuberculum pharingeum, kekaudal batas peralihan pharyng menjadi oesofhagus adalah pada setinggi vertebra cervicalis keenam.

Fharyng atau kerongkongan dibentuk oleh otot-otot konstriktur yaitu berturut-turut dari atas kebawah : musculus contrictor pharyngis superior, . musculus contrictor pharyngis media, musculus contrictor pharyngis inferior. Otot-otot ini membentuk lingkaran dengan raphe yang kuat digaris tengah belakang. Musculus contrictor pharingis superior mempunyai perlekatan pada tuberculum pharyngeum, hamulus pterygoideus, sisi lateral lidah dan os mandibula serta raphe pterygomandibularis. Musculus contrictor pharingis media mempunyai perlekatan pada os hyoideum

Musculus contrictor pharingys inferior  pada cartilago thyroidea dajn cricoidea. Sedang ujung caudalnya berhubungan dengan oesophagus. Otot-otot ini diurus cabang nervus vagus (yang sebenarnya merupakan pars cranialis nervus accessories yang bergabung pada nervus vagus itu)

Pharyng penting untuk mekanisme menelan, (=deglutition) dan pernapasan. Mucosa nasofaring adalah epithel respirasi yang berupa ephitel bertingkat bercillia, sedangkan bagian lain ditutup oleh epitel berlapis gepeng.

 

Pars nasalis pharyngis secara klinis dapat dilihat dapat dilihat melalui pemeriksaan rhinoscopy posterior, dan sedikit melalui rhinoscopy anterior. Didinding belakangnya terdapat tonsilla pharyngealis (=adenoid) dilateral terdapat tonjolan torus tubarius dengan lubang keluar tuba auditiva ditengahnya. Penonjolan ini disebabkan oleh pars cartilaginea tuba auditiva itu. Bagian anterior torus tubarius melanjutkan diri kebawah membentu plica salpingopalatina yang berakhir pada palatinum molle, dan posterior menjadi plica salpingopharingea yang berakhir diorofaring. Posterior terhadap kedua lipatan ini didapatkan recessus pharyngeus dan tonsilla tubaria (=tubal tonsil). Peralihan menjadi pars oralis pharyngis dinamakan hiatus nasopharyngica.

 

Pars oralis pharyngis . Pada radix linguae terlihat tiga lipatan yang berhubungan dengan epiglottis, yaitu plica glossoepiglottica lateralis kiri kanan dan plica glossoepiglotica mediana. Dengan adanya plica itu, terbentuk dua cekungan yang dinamakan vallecula epiglotica kiri kanan. Melalui perlekatan ini, epiglottis akan turut bergerak dengan pergerakan lidah. Pada waktu menelan, lidah tertarik  keddepan sehingga pangkal epiglottis juga tertarik kedepan. Sebagai akibatnya epiglottis mempunyai posisi yang menutup aditus laryngis, mencegah makanan masuk ke laryng.

 

Pars laryngea pharyngis. Terletak posterior terhadap aditus laryngis. Dikiri kanan laryng terdapat recessus piriformis tempat lalu makanan yang ditelan. Bagian ini termasuk sulit mengalami pelebaran karena dibatasi oleh tulang rawan sehingga menjadi salah satu penyempitan jalan lalu makanan yang ditelan.

 

Mucosa pharyng . diurus oleh serabut sensoris nervus glossopharyngeus dan nervus vagus.  Sentuhan pada mucosa pharyng ini (dan mucosa palatum mole) dapat menimbulkan reflex muntah.

3.   Laring (tenggorok)

Laryng merupakan penghubung pharyng dan trachea, khususnya dalam hubungannya dengan fungsi pernapasan. Organ ini dibentuk oleh tulang rawan hyaline, kecuali epiglottis oleh jaringan fibrocartilago.

Tulang rawan pembentuk laryng yang penting terdiri dari epiglottis, cartilage thyroidea, cartilage cricoidea, dan cartilage arytenodea; disertai cartilage cuneiformis, dan cartilage corniculata. Aditus laryngis adalah lubang masuk ke laryng yang berhadapan dengan pharyng.

 

 

Cartilago tyroidea merupakan cartilage  terbesar berbentuk setengah lingkaran dengan bagian anterior yang lebar, dengan proyeksi setinggi vertebra cervicalis ke empat. Dibawah cartilago cricoidea yang berbentuk cincin yang lebih lebar dibagian posterior.

Pada anak-anak cincin ini mempunyai diameter seukuran pensil  (7 mm) dan pada orang dewasa sikitar 18 mm. cartilago tyroidea pada laki-laki dewasa menonjol pada leher dinamakan “adam’ apple” atau prominentia  laryngea (pomum adami). Pada permukaan dalam tulang rawan ini terdapat perlekatan epiglottis yang mempunyai bentuk seperti daun memanjang keatas berhubungan dengan radix linguae.

Pada bagian belakang laryng terdapat dua buah cartilago arytinoidea yang berartikulasi pada cartilago cricoidea dan cartilage thyroidea. Masing-masing cartilago arytinodea dihubungkan dengan cartilago thyroidea oleh plica vocalis dengan musculus vocalis didalamnya. Pergerakan cartilage arytinoidea terhadap cartilage cricoidea menyebabkan perubahan posisi dari plica vocalis sehingga menghasilkan suara yang berbeda-beda. Plica vocalis terdiri dari pars intercartilagenea (dekat cartilago arytenoidea) dan pars intermembranacea.

Selain itu masing –masing cartilage arytenoidea juga dihunbungkan dengan epiglottis melalui plica aryepiglottica. Dengan demikian, aditus laringis sebenarnya dibentuk oleh epiglottis, plica aryepiglotica dan cartilage arytenoidea.

Cartilago tyroidea dihubungkan dengan os hyoideum oleh membrana thyroidea yang tembus arteria laryngeus superior dan nervus laryngeus superior. Dianatara cartilago thyroidea dan cartilago cricoidea terdapat membrane cricothyroidea.

Disebelah atas plica vocalis terdapat lipatan yang dinamakan plica vestibularis. Diantara plica vocalis dengan plica ini terdapat vestibulum laryngis.

Dengan adanya plica vocalis lubang masuk laryng menjadi sesuai dengan celah yang dimunculkan plica tersebut. Celah ini dinamakan rima glotidis. Pada keadaan istirahat, rima glotidis berada dalam keadaan setengah terbuka. Celah akan merapat pada saat mengeluarkan suara dengan nada tinggi. Perubahan bentuk celah disebabkan gerakan plica vocalis yang dihasilkan kontraksi otot intrinsic laryng.

 

 

OTOT INTRINSIK LARYNG

Otot intrinsic laryng yaitu otot origio dan insertionya terdapat pada tulang rawan yang membentuk laryng, terdiri dari musculus cricothyroideus, musculus cricoarytinoideus posterior, musculus cricoarytinoideus lateralis, musculus thyroarytenoideus, musculus arytenoideus tranversus, musculus arytenoideus obliquus, dan musculus vocalis.

Musculus crycothyroideus yang diurus nervus laryngeus superior mengatur ketegangan plica vocalis dan sedikit adduksi. Musculus cryarytenoideus posterior menyebabkan abduksi plica vocalis, muskulus cricoarytenoideus lateralis juga menyebabkan adduksi, musculus arytenoideus tranversus dan musculus arytenoideus obliquus menyebabkan abduksi pita suara. Otot-otot terakhir ini diurus nervus laryngeus inferior yang merupakan kelanjutan nervus laryngeus recurrens.

Laryng mendapat darah dari arteria laryngea superior, cabang arteri tyroidea superior, dan arteria laryngea inferior, cabang arteri tyroidea inferior.

Bagian laryng diatas pplica vocalis dan dibawah plica vocalis mempunyai persarafan sensoris yang berbeda. Bagian yang diatas, supraglotidis, masih mempunyai persarafan somatis sedangkan dibawah plica vocalis, infragottidis, bersifar visceral.

Peralihan laring atau cricoidea menjadi trachea terjadi pada setinggi vertebra cervicalis ke enam.

4.    Trachea atau batang tenggorok

Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 – 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.

Sebelum mempelajari bronchus danparu-paru, anda harus menguasai anatomi  thorax

ANATOMI TORAKS

Toraks adalah daerah pada tubuh manusia (atau hewan) yang berada di antara leher dan perut (abdomen). Toraks dapat didefinisikan sebagai area yang dibatasi di superior oleh thoracic inlet dan inferior oleh thoracic outlet; dengan batas luar adalah dinding toraks yang disusun oleh vertebra torakal, iga-iga, sternum, otot, dan jaringan ikat.

Sedangkan rongga toraks dibatasi oleh diafragma dengan rongga abdomen. Rongga Toraks dapat dibagi kedalam dua bagian utama, yaitu : paru-paru (kiri dan kanan) dan mediastinum. Mediastinum dibagi ke dalam 3 bagian: superior, anterior, dan posterior. Mediastinum terletak diantara paru kiri dan kanan dan merupakan daerah tempat organ-organ penting toraks selain paru-paru (yaitu: jantung, aorta, arteri pulmonalis, vena cavae, esofagus, trakhea, dll.).

 

Thoracic inlet merupakan “pintu masuk” rongga toraks yang disusun oleh: permukaan ventral vertebra torakal I (posterior), bagian medial dari iga I kiri dan kanan (lateral), serta manubrium sterni (anterior). Thoracic inlet memiliki sudut deklinasi sehingga bagian anterior terletak lebih inferior dibanding bagian posterior. Manubrium sterni terletak kira-kira setinggi vertebra torakal II.

Batas bawah rongga toraks atau thoracic outlet (pintu keluar toraks) adalah area yang dibatasi oleh sisi ventral vertebra torakal XII, lateral oleh batas bawah iga dan anterior oleh processus xiphoideus.

Diafragma sebagai pembatas rongga toraks dan rongga abdomen, memiliki bentuk seperti kubah dengan puncak menjorok ke superior, sehingga sebagian rongga abdomen sebenarnya terletak di dalam “area” toraks.

 

SURFACE ANATOMY

 

Pada garis tengah dibagian anterior terletak sternum yang terdiri dari 3 bagian, manubrium, korpus, dan prosesus xiphoideus. Titik paling atas sternum dikenal sebagai sternal notch atau insisura jugularis, yang tampak berupa lekukan antara kedua kaput klavikula. Insisura ini setinggi batas bawah dari vertebra torakal ke-2.

Angulus ludovici adalah tonjolan yang terjadi oleh karena pertemuan bagian korpus dan manubrium sterni yang membentuk sudut. Sudut ini tampak nyata pada orang yang kurus. Angulus ludovici adalah penanda anatomi permukaan oleh karena terletak setinggi iga ke-2 dan vertebra torakal 4-5. Setinggi angulus ini terdapat organ-organ penting: arkus aorta dan karina.

Bagian terakhir sternum adalah processus xiphoideus yang dapat diraba sebagai ujung bawah yang lunak dari sternum kira-kira setinggi vertebra torakal 9.

Lateral terhadap sternal terdapat iga dan sela iga yang dapat dibedakan dan dihitung melalui palpasi. Hampir seluruh iga tertutup oleh otot, tetapi hanya iga I yang tidak dapat teraba oleh karena tertutup oleh klavikula.

Batas bawah rongga iga di sebelah anterior dibentuk oleh processus xiphoideus, rawan kartilago dari iga VII-X, dan ujung kartilago dari iga XI-XII.

Papilla mammae pada pria yang kurus berada di sekitar sela iga V kiri sedikit lateras garis mid-klavikula.

 

Triangulus auskultatorius adalah area segitiga yang dibentuk oleh skapula di lateral, superior oleh batas inferior m.trapezius dan inferior oleh batas superior m. latissimus dorsi yang terjadi saat skapula tertarik ke lateral-anterior pada posis lengan melipat ke depan dada dan ke depan. Area ini merupakan petunjuk klinis penting karena sela-sela iga di tempat ini hanya tertutup oleh jaringan sub-kutan dan merupakan tempat yang baik untuk pemeriksaan auskultasi toraks.

Klavikula dapat dengan mudah diraba atau dilihat karena hanya ditutupi oleh subkutis dan kulit.

Skapula dapat diraba dari permukaan dengan margo vertebralis, angulus inferior, dan spina.

Untuk vertebra, sebagai patokan hanya dapat diraba prosesus spinosus vertebra; pada bagian atas yang terbesar dan paling menonjol adalah vertebra servikalis ke-7 dan dibawahnya adalah vertebra torakalis pertama.

 

Garis-garis (imajiner) yang penting adalah linea midsternalis (midline), linea parasternalis, dan midklavikularis. Di toraks lateral ada garis aksilaris anterior (sesuai sisi lateral M.pektoralis mayor), linea aksilaris medius (sesuai dengan puncak aksila) dan linea aksilaris posterior (sesuai dengan M.latissimus dorsi)

Biasanya otot yang diinsisi pada waktu melakukan torakotomi posterolateral hanya otot latissimus dorsi. Bila diinginkan lebih lebar: ke posterior dapat dipotong muskulus trapezius dan rhomboideus mayor dan minor; ke anterior dapat dipotong muskulus seratus anterior di origonya (bagian depan otot) untuk menghidari kerusakan nervus torakalis longus.

Untuk torakotomi anterior dilakukan pemotongan dari M.pektoralis

Area Pre-cordial adalah area proyeksi dari jantung ke dinding dada anterior, yaitu daerah dengan :

  • batas superior: iga II kiri
  • batas inferior : pinggir bawah toraks (iga) kiri
  • batas kanan : garis parasternal kanan
  • batas kiri : garis mid-klavikula kiri

 

DINDING TORAKS

 

Costae

Rangka toraks terluas adalah iga-iga (costae) yang merupakan tulang jenis osseokartilaginosa. Memiliki penampang berbentuk konus, dengan diameter penampang yang lebih kecil pada iga teratas dan makin melebar di iga sebelah bawah. Di bagian posterior lebih petak dan makin ke anterior penampang lebih memipih.

Terdapat 12 pasang iga : 7 iga pertama melekat pada vertebra yang bersesuaian, dan di sebelah anterior ke sternum. Iga VIII-X merupakan iga palsu (false rib) yang melekat di anterior ke rawan kartilago iga diatasnya, dan 2 iga terakhir merupakan iga yang melayang karena tidak berartikulasi di sebelah anterior.

Setiap iga terdiri dari caput (head), collum (neck), dan corpus (shaft). Dan memiliki 2 ujung : permukaan artikulasi vertebral dan sternal.

Bagian posterior iga kasar dan terdapat foramen-foramen kecil. Sedangkan bagian anterior lebih rata dan halus. Tepi superior iga terdapat krista kasar tempat melekatnya ligamentum costotransversus anterior, sedangkan tepi inferior lebih bulat dan halus.

Pada daerah pertemuan collum dan corpus di bagian posterior iga terdapat tuberculum. Tuberculum terbagi menjadi bagian artikulasi dan non artikulasi.

Penampang corpus costae adalah tipis dan rata dengan 2 permukaan (eksternal dan internal), serta 2 tepi (superior dan inferior). Permukaan eksternal cembung (convex) dan halus; permukaan internal cekung (concave) dengan sudut mengarah ke superior.

Diantara batas inferior dan permukaan internal terdapat costal groove, tempat berjalannya arteri-vena-nervus interkostal.

Iga pertama merupakan iga yang penting oleh karena menjadi tempat melintasnya plexus brachialis, arteri dan vena subklavia. M.scalenus anterior melekat di bagian anterior permukaan internal iga I (tuberculum scalenus), dan merupakan pemisah antara plexus brachialis di sebelah lateral dan avn subklavia di sebelah medial dari otot tersebut.

Sela iga ada 11 (sela iga ke 12 tidak ada) dan terisi oleh m. intercostalis externus dan internus. Lebih dalam dari m. intercostalis internus terdapat fascia transversalis, dan kemudian pleura parietalis dan rongga pleura. Pembuluh darah dan vena di bagian dorsal berjalan di tengah sela iga (lokasi untuk melakukan anesteri blok), kemudian ke anterior makin tertutup oleh iga. Di cekungan iga ini berjalan berurutan dari atas ke bawah vena, arteri dan syaraf (VAN). Mulai garis aksilaris anterior pembuluh darah dan syaraf bercabang dua dan berjalan di bawah dan di atas iga. Di anterior garis ini kemungkinan cedera pembuluh interkostalis meningkat pada tindakan pemasangan WSD.

 

Vertebra

Untuk bedah toraks sebetulnya tidak banyak yang harus diketahui mengenai vertebra kecuali bahwa persendiannya dengan kosta. Vertebra torakalis pertama (T 1)mempunyai satu persendian yang lengkap dengan iga I dan setengah persendian dengan iga II. Selanjutnya T2-T8  mempunyai dua persendian, di atas dan di bawah korpus vertebra (untuk iga II sampai dengan VIII). Sedang dari T9-T12 hanya mempunyai satu persendian dengan iga. Semua ini penting untuk melepaskan iga dari korpus vertebra pada waktu melakukan torakotomi.

Yang perlu juga diketahui adalah ligamentum longitudinalis anterior; di depan ligamentum ini terdapat suatu ruangan (space) dengan susunan jaringan ikat yang longgar dan merupakan “jalan” untuk descending infection dari daerah leher menuju mediastinum.

 

 

 

 

 

 

 

RONGGA THORAX

Rongga thorax atau cavitas thoracis terbagi menjadi 3 ruangan yaitu 2 rongga pleura dan sebuah rongga mediastinum . paru-paru dan pleura mengisi sebagian besar rongga thorax dengan jantung diantaranya. Mediastinum terletak ditengah, diantara dua rongga pleura disebelah lateralnya. Didalamnya terdapat jantung, pembuluh-pembuluh darah besar serta struktur lain seperti trachea, oesofagus, thymus dan kelenjar getah bening.

PLEURA

Pleura parietalis

Pleura parietalis merupakan selaput tipis dan membrane serosa yang melapisi rongga pleura. Pada daerah yang menghadap mediastinum, pleura ini beralih meliputi paru-paru sehingga disebut pleura visceralis atau pleura pulmonalis. Ruangan potensial antara kedua lapisan pleura disebut cavitas  cavitas pleuralis yang hanya berisi lapisan tipis cairan untuk lubrikasi.

Pleura parietalis dibagi menjadi pars costalis yang melapisi permukaan dalam dinding thorax, pars mediastinalis yang membungkus mediastinum dan sisi rongga  pericardium, pars diafragmatica yang melapisi permukaan atas dari diafragma dan capula pleurae pada apex dari pleura.

Pars costalis, pleura ini melapisi permukaan dalam costa, cartilage costae, sternum dan otot pada sela-sela iga dengan fascia endothoracica diantaranya. Dibagian depan kearah mediastinum, pars costalis beralih menjadi pars mediastinalis  dengan tepi peralihan yang disebut margo interior sehingga terbentuk ruangan pleura yang disebut recessus costomediatinalis.

Disebelah bawah, pleura costalis beralih ke pars diafragmatica dengan peralihan tajam yang disebut margo inferior. Rongga yang terbentuk didaerah ini disebut recessus costodiafragmaticus. Disebelah belakang dekat corpus vertebra, pars costalis juga beralih ke pars mediastinalis sehingga terbentu margo posterior yang kurang tegas.

 

Pars mediatinalis, pada daerah radix pulmonis, pleura ini meliputi atau membungkus struktur dari radix pulmonis, kemudian melanjutkan diri sebagai pleura viscelaris. Dibagian bawah radix pulmonis, pars mediatinalis berjalan kelateral sebagai dua lapisan diantara oesopagus dan paru-paru sehingga terbentuk ligamen pulmonal yang berjalan kebawah sampai pinggir bebas paru-paru. Pleura juga meliputi pericardium, kecuali pada tempat lewatnya nervus phrenicus dan arteria pericardiaco phrenica. Peralihan pleura dibelakang eusofagus menyebabkan terbentunya recessus retroesofhagea.

Pars diafragmatica, pleura ini menutupi permukaan atas diafragma kecuali pada daerah centrum tendeneum. Diantara pleura dan diafragma terdapat fascia endothoracica yang disebut  juga fascia phrenicopleurae.

Capula pleura, pars costalis dan pars mediastinalis melanjutkan diri keatas apeks paru-paru sehingga terbentuk kubah pleura.  Capula pleura ini diperkuat oleh penebalan fascia endothoracica yang disebut  sebagai membrane suprapleuralis. Membrane tersebut melekat pada bagian pinggir bagian dalam costa I dan processus tranversus  costa 7. Cupula pleura dan apex paru-paru menonjol ke atas sampai colulm costa I. bagian atas mencapai setinggi procesus spinosus costa 7 dan tertutup oleh muskulus sternocledomastoideus.

Truncus symphaticus dan nervus thoracica I terletak dibelakang cupula pleurae sehingga proses penyakit pada paru-paru atau pleura yang terjadi di situ dapt menyebabkan timbulnya horner’s syndrome atau kemungkinan terjadi paralysis otot intrinsic kanan. Horner’s syndrome terjadi karena gangguan pada truncus symphaticus yang menyebabkan terjadinya miosis, ptosis, endhoptalmus, anhydrosis dan vasodilatasi.

Pleura visceralis,  membungkus paru-paru dan melekat erat pada permukaannya. Permukaan pleura ini licin dan halus sehingga mudah bergeser dengan pleura parietalis. Pleura visceralis masuk kedalam fisura sehingga paru-paru terbagi menjadi beberapa lobi paru. Pada daerah radix pulmonis, pleura ini melanjutkan diri ke pleura parietalis.

Persarafan pleura, pleura parietals sensitive terhadap rangsangan nyeri terutama pada pars costalis sedangkan pleura visceralis tidak sensitive terhadap rasa nyeri.

Pleura costalis mendapat persarafan dari nervus spinalis Toracal I- XI. Rasa nyeri yang timbul dirasakan setempat pada daerah iga atau sela iga. Rangsangan pada diafragmatica menimbulkan nyeri yang lebih difus dan sering dijalarkan kearah dinding perut  atau pinggang, karena bagian perifer diafragma mendapat persarafan dari nervus intercostalis bagian bawah. Bagian central diafragma dan pars mediatinalis dipersarafi nervus phrenicus sehingga rasa nyeri yang timbul dapat dijalarkan kepundak dan leher.

Peradangan dari pleura disebut pleuritis atau tumor ganas pada pleura parietalis dapat menimbulkan rasa nyeri.

Cavitas pleuralis

Merupakan ruang potensial antara pleura parietalis dan pleura visceralis yang dilapisi oleh selaput tipis cairan yang memudahkan pergeseran antara permukaan paru dan pleura parietalis. Lapisan ini juga menghasilkan tegangan permukaan yang akan mempertahankan paru tetap berkembang sampai batas rongga pleura karena proses patologis seperti infeksi disebut hydrothorax, atau empiema. Pada trauma thorax dapat terjadi pedarahan kedalam rongga pleura yang disebut haemothorax. Masuknya chycle kedalam rongga pleura disebut chylothorax. Cairan ini akan berkumpul didalam rongga pleura atau recessus costodiafragmaticus pada posisi berdiri.

Jumlah cairan sebanyak 500 cc akan terlihat pada foto rontgen thorax sebagai sudut costodiafragmaticus yang menjadi tmpul sedangkan pada perkusi dinding torax akan terjadi perubahan suara dari timpanis  menjadi pekak pada daerah lokasi cairan.

Bila udara masuk kedalam rongga pleura, maka akan terjadi pneumothorax dengan akibat paru-paru akan kolaps atau isi mediastinum akan terdesak oleh udara yang masuk. Hal ini dapat terjadi karena tegangan permukaan yang menyebabkan paru-paru tetap berkembang akan terganggu sehingga paru-paru menjadi kolaps. Pnemothorax dapat terjadi karena luka tusuk pada dinding thorax atau rupture dari bulla pada paru. Adanya udara akan menyebabkan sesak napas karena ventilasi atau perfusi udara terganggu. Bila disertai tedorongnya mediastinum maka keadaan menjadi gawat sehingga perlu segera di atasi dengan cara memasang chest tube untuk mengeluarkan udara yang masuk.

5.   

Paru-paru kiri dan kanan

PULMO/PARU-PARU

 

Adalah organ pernapasan yang penting karena udara yang masuk dapat berhubungan secara erat dengan darah kapiler didalam paru-paru. Tiap paru-paru melekat pada jantung dan trachea melalui radixs pulmonalis dan ligamentum pulmonal. Paru-paru sehat selalu berisi udara dan akan mengapung bila dimasukkan ke dalam air.

Paru-paru dari fetus atau bayi baru lahir berwarna agak kemerahan dan lunak. Bila bayi belum pernah bernapas maka paru-paru tidak akan mengapung didalam air tetapi akan tenggelam.

Paru-paru orang dewasa mempunyai permukaan yang berwarna lebih gelap dan sering ada bercak-bercak yang disebabkan oleh penimbunan partikel debu yang terisap. Dibandingkan dengan paru-paru kiri, maka paru-paru kanan lebih besar dan lebih berat, tetapi lebih pendek karena kubah diafragma kanan letaknya lebih tinggi. Juga lebih besar karena adanya jantung yang letaknya lebih kekiri dalam rongga torax.

Tiap paru-paru mempunyai sebuah apeks, sebuah basis, tiga buah fasies yaitu fasies costalis, fasies mediastinalis, dan facies diafragmatica, dan tiga buah margo yaitu margo anterior, inferior dan posterior. Paru-paru kiri dibagi menjadi lobus superior dan lobus inferior oleh sebuah fisura oblique. Paru-paru kanan dibagi menjadi lobus superior, inferior, dan medius oleh fisura oblique dan fisura horizontalis. Bronchi dan faso pulmonalis muncul dari trachea dan jantung menuju tiap paru-paru. Keseluruhannya membentuk radix pulmonis yang akan memasuki hilum polmunis. Apeks pulmonis berbentuk bundar seperti bentuk cupula pleura .apex pulmonis sebelah kanan lebih kecil dan lebih dekat trachea, dan disilang oleh vasa subclavia

Facies costalis tanpak lebih lebar, lebih cembung dan berhubungan dengan pleura pars costalis. Facies ini beralih ke facies mediastinalis pada margo anterior dan posterior dan beralih kefacies diafragmatica pada margo inferior.

Facies mediastinalis terbagi menjadi pars vertebralis dan pars mediatinalis. Pars vertebralis terdapat pada sisi vertebra thoracicae. Pars mediastinalis agak cekung karena berhadapan dengan mediastinum. Pada facies ini terdapat inpressio cardiaca yang lebih jelas dan dalam pulmo kiri bila dibandingkan dengan pulmo kanan. Hilum polmonis terdapat disebelah atas dan belakang inpressio cardiac. Hilum pilmonis mengandung pembuluh darah, saraf, pembuluh getah bening dan bronchi yang keluar dan masuk pulmo.

Facies diafragmatica bentuknya sesuai dengan bentuk kubah diafragma. Facies diafragmatica sebelah kanan lebih cekung daripada yang kiri. Facies diafragmatica disebut juga sebagai basis pulmonis.

Margo anterior tipis dan tajam dan menutupi sebagian permukaan depan pericardium. Batasnya sesuai dengan batas margo anterior pleura. Pada inspirasi dalam, bagian pulmo didaerah ini akan mengisi recessus costomediatinalis. Margo anterior dari pulmo sinister mempunyai incisura cardiac yang letakknya lebih kekiri dari pada batas pleura. Bagian paru-paru kiri yang terdapat antara incisura cardiaca dan fisssura disebut lingula yang sesuai dengan lobus medius pada paru-paru kanan.

Margo inferior tipis dan tajam, mengisi recessus costodiafragmaticus pada waktu inspirasi. Tetapi pada pemeriksaan dengan perkusi, batas bawah ini letaknya lebih tinggi dan baru pada inspirasi dalam batasnya turun lebih rendah. Batas margo inferior letaknya dua sela iga lebih tinggi dari batas pleura.

Margo posterior paru-paru sesuai dengan margo posterior dari pleura parietalis.

Paru-paru kanan

Lobus Paru-Paru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Organ-organ yang berhubungan denga paru-paru kanan

 

 

Paru-paru kiri

 

 

 

 

Organ-organ yang berhubungan denga paru-paru kiri

 

 

 

 

Dengan adanya fissura oblique dan fissure horizontalis, paru-paru kanan terbagi menjadi 3 buah lobi. Fissura obliqua memisahkan lobus inferior dari lobus medius dan lobus superior, sedangkan fisura horizontalis memisahkan lobus superior dan lobus medius. Lobus medius paru-paru kanan ini mempunyai bentuk seperti sebuah segi tiga.

Fissura obliqua pada paru-paru kiri memisahkan lobus superior dan lobus inferior. Lingua terdapat pada lobus superior paru-paru kiri. Lobus inferior meliputi sebagian besar pulmonis dan bagian posterior paru-paru kiri.

Fissura obliqua paru-paru kiri dan kanan mulai dari caput costae V, berjalan kebawah depan mengikuti garis sesuai dengan letak costa VI sampai berakhir pada daerah costochondral VI dimargo inferior. Pada lengan yang diletakkan dibelakang kepala, margo vertebralis scapulae letaknya kurang lebih sesuai dengan letak fissura.

Fissura horizontalis paru-paru kanan, mulai dari fissura obligua dekat linea axilaris media, dan akan berjalan kedepan menuju margo anterior setinggi cartilago coatae ke IV.

Bronchus

 

Tiap paru mempunyai satu bronchus principalis yang berjalan keinferolateral mulai dari ujung bawah trachea. Bronchus utama ini masuk kedalam hilum polmonis dan kemudian bercabang membentuk arbor bronchialis.  Hubungan letak bronchus dengan vasa pulmonalis pada hilum pulmonis adalah sebagai berikut :dari depan kebelakang berturut-turut adalah vena, arteri dan bronchus dengan arteri di sebelah atas vena.

Bronchus principalis dexter lebih lebar, pendek dan lebih vertical dari pada sebelah kiri sehingga lebih mudah dilewati benda asing besar yang masuk kedalam paru-paru.

Didalam paru, bronchus bercabang-cabang secara teratur sehingga mempunyai cabang untuk bagian-bagian tertentu dari paru-paru.

Broncus principalis bercabang menjadi bronchus lobaris atau bronchus skunder, dua untuk paru-paru kiri, tiga untuk paru-paru kanan dan masing-masing untuk satu lobus paru. Bronchus lobaris paru kanan bawah terletak paling vertical dan tanpak seperti lanjutan dari trachea, sehingga merupakan tempat yang mudah dimasuki benda asing berukuran kecil. Bronchus lobaris terbagi lagi menjadi bronchus segmentalis atau bronchus tertier untuk bagian paru yang disebut segmentum cholpulmonalis.

Segmen bronchopulmonalia

Setiap segmentum bronchopulmonalis mempunyai bronchus segmentalis yang kemudian akan becabang-cabang lagi menjadi bronchus yang lebih kecil. Segmen paru berbentuk seperti pyramid dengan apex yang mengarah ke radiks pulmonis dan basis menghadap pleura.

Setiap segmen mempunyai tiga karakteristik yaitu bronchus segmentalis terletak sentral, bronchus segmentalis diikuti oleh arteria segmentalis dan venae intersegmentalis yang terbentuk dari persatuan plexus venosus dalam septum intersegmentalis.

Pulmo dexter

Pulmo sinister

Lobus superior

I.              Segmentum apicale

II.            Segemntum posterius

III.           Segmentum anterius

Lobus medius

IV.          Segmentum lateral

V.            Segmentum mediale

Lobus inferior

VI.          Segmentum superius

VII.         Segmentum basal mediale

VIII.        Segmentum basale anterius

IX.          Segmentum basal lateral

X.            Segmentum basal posterius

Lobus superior

I & II. Segmentum apicoposterius

III. segmentum anterius

IV. segmentum lingulare superius

V. segmentum lingulare inferius

Lobus inferior

VI. segmentum superius

VII & VIII. Segmentum basale mediale      anterius

IX. segmentum basal lateral

XI.    Segmentum basal posterius.

 

 

Masing-masing segmen saling dipisahkan saling dipisahkan oleh septa jaringan ikat yang akan meneruskan diri ke pleura fisceralis. Tiap segmen diurus oleh saraf, arteri dan vena masing-masing. Secara klinis hal ini penting karena penyakit paru-peru atau bronchus seperti tumor atau abses dapat terlokalisir hanya pada satu segmen saja dank arena itu dapat dilakukan tindakan pembedahan untuk mengambil satu segmen (segmenectomy) tanpa terlalu merusak jaringan sekitarnya.

Broncus bercabang-cabang sampai diameternya mencapai kurang dari 1 mm yang disebut bronchiolus. Pada bronchiolus, cartilago dan kelenjar mucosa mulai berkurang, dan pada bronchiolus respiratorius mulai tanpak gelembung alveolus. Bronchiolus ini akan bermuara kedalam beberapa duktus alveolaris. Dari duktus alveolaris terbentuk sacus alveolaris dan banyak alveoli.

Pada permukaan paru-paru tanpak garis-garis gelap yang membatasi daerah berbentuk polygonal dengan diameter 1-2 cm ini adalah basis dari bagian paru berbentuk pyramid yang diurus oleh sebuah bronchiolus dengan diameter 1 mm atau kurang. Bagian paru-paru ini disebut lobulus anatomicus atau lobulus sekundarius. Kemudian terdapat garis-garis halus yang membagi-bagi basis tadi menjadi daerah yang lebih kecil yaitu lobulus primaria atau unit paru-paru yang diurus oleh sebuah bronchiolus respiratorius.

Pembuluh darah

Truncus pulmonalis muncul dari ventrikel kanan. Setelah berjalan sepanjang 5 cm, kemudian bercabang dua menjadi arteria pulmonalis dextra dan sinistra. Arteri pulmonalis dextra berjalan diposterior dari aorta asenden dan vena cava superior, dan berjalan superior terhadap bronchus principalis dexter sebelum bercabang menjadi tiga buah arteri lobarer yang kemudian bercabang-cabang menjadi arteria segmentales. Arteri pulmonalis sinistra berjalan anterioe terhadap arcus aorta dan saling berhubungan dengan perantaraan ligamentum arteriousum. Pembuluh ini menyilang dan terletak superior  terhadap bronchus principalis kiri. Kemudian bercabang menjadi dua buah arteri lobarer dan selanjutnya menjadi arteri segmentalis.

Darah yang akan mengalami oksigenasi dibawa oleh artei pulmonalis kedalam paru-paru, sedangkan paringan paru-paru sendiri menerima darah atau oksigegn dari arteri bronchialis. Artei pulmonalis bercabang-cabang mengikuti percabangan bronchi dan berjalan disebelah posterolateralnya. Cabang terminalnya menjadi kapiler-kapiler pada permukaan dinding alveoli sebagai tempat pertukaran gas. Arteri bronchialis berasal dari aorta atau dari arteri intercostalis dan bercabang-cabang mengikuti percabangan bronchus sisebelah belakangnya.

Vena pulmonalis membawa darah bersih dari paru-paru menuju atrium kiri. Biasanya ada empat buah vena polmunalis. Vena pulmonalis dextra superior mengalirkan darah dari lobus superior dan lobus medius paru kanan. Vena pulmonalis sinistra superior menerima darah dari lobus superior paru kiri. Vena pulmonalis dextra inferior dan vena pulmonalis dextra inferior, masing-masing menerima darah dari lobus inferior paru kanan dan lobus inferior paru kiri.

Radix pulmonis

radix pulmonis terdiri dari struktur yang masuk dan keluar dari paru-paru melalui hilum pulmonis. Radix pulmonis diliputi oleh pleura yang memanjang kebawah sebagai ligamentum pulmonal. Radix pulmonis berisi bronchus princhipalis, vasa pulmonalis, saraf, fasa bronchialis, pembuluh getah bening dan nodi lympoidei. Radix pulmonis kanan trdiri dari dua arteri pulmonalis, dua vena pulmonalis, sebuah bronchus, sebuah arteri bronchialis serta vena bronchialis, plexus pulmonalis dan nodi lympoidei.

Radix pulmonis kiri sama dengan yang kanan kecuali hanya ada satu arteri pulmonalis dan dua arteri bronchialis. Biasanya bronchus terletak diposterior, arteri disuperior dan vena  inferior. Bronchus lobaris superior dexter letaknya lebih tinggi dibandingkan arteri pulmonalis dexter sehingga sehingga disebut bronchus eperterialis. Bronchus lobaris superior sinister terletak lebih rendah dari arteria pulmonalis kiri sehingga disebut bronchus hyparterialis.

Persarafan  

Persarafan paru-paru dilakukan oleh saraf otonom berupa cabang-cabang saraf simpatis thoracica dan nervus vagus.

a.    Serabut simpatis dari cabang nervus thoracica menuju flexus pulmonalis yang terletak pada setiap sisi bronchus principalis. Saraf ini mrengatur fungsi vasokontriksi dari pembuluh darah paru dan aktifitas sekretomotor dari kelenjar bronchial.

b.    Serabut para simpatis dari nervus vagus kanan dan kiri member cabang pada pleus pulmonalis. Saraf ini mengurus otot polos bronchus dan rangsangan yang berlebihan dapat menyebabkan serangan asma bronchiale.

Terdapat plexus pulmonalis anterior dan plexus pulmonalis posterior yang letaknya didepan dan belakang radix pulmonis. Plexus yang posterior lebih besar dari pada yang anterior. Cabang-cabang dari plexus ini akan mengikuti pembuluh daarah dan bronchus masuk ke paru-paru.

 

cedra kepala

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Cedera kepala bertanggung-jawab atas separuh kematian karena cedera. Merupakan komponen yang paling sering pada cedera multipel. Ditemukan pada 75 % korban tewas karena kecelakaan lalu-lintas. Untuk setiap kematian, terdapat dua kasus dengan cacad tetap, biasanya sekunder terhadap cedera kepala.

Masalah yang biasa dihadapi adalah jauhnya, ketersediaan fasilitas serta tingkat kompetensi bedah saraf setempat, serta lambatnya tindakan definitif, organisasi kegawat-daruratan, dan profil cedera. Yang terpenting adalah pengelolaan ventilasi dan hipovolemia yang berperan dalam menimbulkan kerusakan otak sekunder yang bisa dicegah. Transfer pasien yang memenuhi sarat dengan segera akan mengurangi kesakitan dan kematian. Transfer tidak boleh diperlambat oleh tindakan diagnostik.

Penyebab kecacadan atau kematian yang dapat dicegah antara lain adalah keterlambataan resusitasi atas hipoksia, hiperkarbia dan hipotensi, keterlambatan tindakan definitif terutama terhadap hematoma intrakranial yang berkembang cepat, serta kegagalan mencegah infeksi.

BAB II

 

PEMBAHASAN

TRAUMA KEPALA

  1. PENGERTIAN

Cedera kepala adalah benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. ( Susan M, Tucker, Dkk. 1998)

Cedera kepala adalah gangguan traumatic yang menyebabkan gangguan fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan intertial dan tidak mengganggu jaringan (kontinuitas jaringan otak baik), (Brunner dan Suddart. 2000)

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007: 3).

Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. Cedera kepala merupakan penyakit neurologik yang serius diantara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil kecelakaan lalu lintas. Resiko utama klien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.

  1. ANATOMI FISIOLOGI

Otak adalah suatu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat computer dari semua alat tubuh, jaringan otak dibungkus oleh selaput otak dan tulang tengkorak yang kuat dan terletak dalam cavum cranii. Otak terdiri dari tiga selaput otak (meningen). Otak terdiri dari tiga selaput otak (meningiens) :

  1. Duramater (lapisan sebelah luar) Selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
  2. Arakhnoida (lapisan tengah) Selaput tipis yang memisahkan duramater dengan piamater membentuk sebuah balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh sistem syaraf sentral.
  3. Piamater (lapisan dalam) Selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak, piamater berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-struktur jaringan ikat disebut tuberkel.

 

Bagian-bagian Otak :

  1. Serebrum (otak besar)

Merupakan bagian terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur mengisi penuh depan atas rongga pada otak besar ditemukan lobus-lobus yaitu :

  1. Lobus Frontalis adalah bagian depan dari serebrum yang terletak di depan sulkus sentralis. Lobus Frontalis pada korteks serebri terutama mengendalikan keahlian motorik ( misalnya menulis, memainkan alat musik atau mengikat tali sepatu) lobus frontalis juga mengatur ekspresi wajah dan isyarat tangan.
  2. Lobus Parietalis, terdapat dibawah lateral dari fisura serebralis dan di depan lobus oksipitalis. Lobus paretalis pada korteks serebri menggabungkan kesan dari bentuk tekstur dan berat badan ke dalam persepsi umum, kemampuan matematika dan bahasa berasal dari daerah ini, juga membantu mengarahkan posisi pada ruang sekitarnya dan merasakan posisi dari bagian tubuhnya.
  3. Lobus temporalis, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan lobus oksipitalis. Lobus temporalis mengolah kejadian yang baru saja terjadi menjadi mengingatnya sebagai memori jangka panjang, juga memahami suara dan gambaran, menyimpan memori dan mengingatnya kembali serta menghasilkan jalur emosional.
  4. Lobus Oksipitalis, yang mengisi bagian belakang dari cerebrum.
  5. Batang Otak (trunkus serebri)

Disensepalon ke ats berhubungan dengan serebrum dan medula oblongata ke bawah dengan medula spinalis. Serebrum melukat pada batang otak di bagian medula oblongata, pons varoli dan mensesepalon.

  1. Serebrum (otak kecil)

Terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan dengan serebrum oleh fisura transversalis dibelakang oleh pons varoli dan di atas medula oblongata. Organ ini banyak menerima serabut aferent sensoris merupakan pusat koordinasi dan intelegensi. (Hudak dan Gallo.1996)

 

 

 

 

  1. ETIOLOGI
  2. Oleh benda tajam
  3. Pukulan benda tumpul
  4. Pukulan benda tajam
  5. Kecelakaan lalu lintas
  6. Terjatuh
  7. Kecelakaan kerja
    (Elizabeth J. Corwin.2000)

D.    JENIS /KLASIFIKASI CEDERA KEPALA

1.    Cedera kulit kepala

Karena bagian ini banyak mengandung pembuluh darah, kulit kepala berdarah bila cedera dalam. Luka kulit kepala juga merupakan tempat masuknya infeksi intracranial. Trauma dapat menyebabkan abrasi, kontosio, laserasi, atau avulsi.

Untuk Pertolongan Pertama yang dapat dilakukan pada luka kulit kepala tanpa patah tulang tengkorak, anda dapat melaksanakannya sebagai berikut:

1.    Kendalikan perdarahan dengan penekanan langsung pada luka dan beri penutup luka. Bila memang dicurigai ada patah tulang tengkorak terbuka maka gunakan bantalan yang tebal guna menghentikan perdarahan dan jangan melakukan penekanan langsung.

 

2.    Pasang pembalut luka.

3.      Tinggikan, bila tidak ada patah tulang tengkorak, cedera tulang belakang atau dada. Jangan posisikan penderita tidak sadar dengan kepala-bahu relatif lebih tinggi.

4.      Periksa untuk memastikan tidak ada kemungkinan cedera spinal (tulang belakang).

5.      Segera evakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat perawatan medis lebih lanjut.

2.    Cedera otak.

Cedera otak serius dapat tejadi dengan atau tanpa fraktur tengkorak, setelah pukulan atau cedera pada kepala yang menimbulkan kontusio, laserasi dan hemoragi otak. Kerusakan tidak dapat pulih dan sel-sel mati dapat diakibatkan karena darah yang mengalir berhenti hanya beberapa menit saja dan kerusakan neuron tidak dapat mengalami regenerasi.

  1. Berdasarkan mekanismenya, cedera kepala dibagi atas
    1. cedera kepala tumpul

Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor, jatuh atau pukulan benda tumpul.

  1. cedera kepala tembus.

Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul.

  1. Berdasarkan Beratnya Cedera

Glascow coma scale ( GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala

  1. Cedera Kepala Ringan (CKR)/komosio serebri

GCS 13– 15, dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. Tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma.

Cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurology atau menurunnya kesadaran tanpa menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001:2211).

Cedera kepala ringan adalah trauma kepala dengan GCS: 15 (sadar penuh) tidak ada kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala, hematoma, laserasi dan abrasi (Mansjoer, 2000:4).

Cidera kepala ringan adalah cedara otak karena tekanan atau kejatuhan benda tumpul. (Bedong, M.A, 2001)

Cedera kepala ringan adalah cedera kepala tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara (Corwin, 2000: 176)

Jadi cedera kepala ringan adalah cedera karena tekanan atau kejatuhan benda tumpul yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi neurology sementara atau menurunya kesadaran sementara, mengeluh pusing nyeri kepala tanpa adanya kerusakan lainnya

b.    Cedera Kepala Sedang ( CKS)

GCS 9 –12, kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari  30 menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur tengkorak.

c.    Kontusio serebral merupakan cidera kepala berat,  (CKB)

GCS lebih kecil atau sama dengan 8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Dapat mengalami kontusio cerebral, laserasi atau hematoma intracranial. dimana otak mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah haemoragi. Pasien tidak sadarkan diri, pasien terbaring dan kehilangan gerakkan, denyut nadi lemah, pernafsan dangkal, kulit dingin dan pucat, sering defekasi dan berkemih tanpa di sadari.

 

 

 

 

 

 

 

 

Skala Koma Glasgow

No

RESPON

NILAI

1 Membuka Mata :

-Spontan

-Terhadap rangsangan suara

-Terhadap nyeri

-Tidak ada

 

4

3

2

1

2 Verbal :

-Orientasi baik

-Orientasi terganggu

-Kata-kata tidak jelas

-Suara tidak jelas

-Tidak ada respon

5

4

3

2

1

3 Motorik :

- Mampu bergerak

-Melokalisasi nyeri

-Fleksi menarik

-Fleksi abnormal

-Ekstensi

-Tidak ada respon

6

5

4

3

2

1

Total

3-15

 

 

Tingkat kesadaran kualitatif :

 

a.    Kompos Mentis : sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekeliling

b.    Apatis : segan untuk berhubungan dengan lingkungan sekitarnya,sikap acuh tak acuh.

c.    Somnolen : ngantuk luar biasa, dapat dibangunkan dengan rangangannyeri tetapi setelah terbangun akan tidur lagi

d.    Delirium : Orientasi terhadap orang, waktu, dan tempat buruk,kekacauan motorik, dan berteriak-teriak.

e.    Sopor/semikoma : reaksi hanya dapat ditimbulkan denganrangsangan nyeri, kesadaran menyerupai koma

f.     Koma : kesadaran hilang sama sekali, tidak ada tanggapan terhadaprangsangan apapun.

  1. Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas :
    1. Fraktur kranium

dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak di sebabkan oleh trauma. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat. Bila fraktur terbuka maka duramater  rusak dan fraktur tertutup keadaan dura tidak rusak

Tanda-tanda tersebut antara lain :

  • Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign)
  • Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign )
  • Kebocoran CSS ( rhonorrea, ottorhea) dan
  • Parese nervus facialis ( N VII )

Sebagai patokan umum bila terdapat fraktur tulang yang menekan ke dalam, lebih tebal dari tulang kalvaria, biasanya memeerlukan tindakan pembedahan.

  1. Lesi Intrakranial

Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus, walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan.

Haemoragi intrakranial. Hematoma (pengumpulan darah) yang terjadi di dalam kubah kranial adalah akibat paling serius dari cedera kepala, efek utama adalah seringkali lambat sampai hematoma tersebut cukup besar untuk menyebabkan distorsi dan herniasi otak serta peningkatan tik.

Termasuk lesi local ;

1)      Perdarahan/haemoragic Epidural

Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria. Umumnya  terjadi pada region temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media (Sudiharto 1998).

Setelah cedera kepala, Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya . Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.

Gejala – gejalanya

  • Penurunan tingkat kesadaran
  • Nyeri kepala
  • Muntah
  • Hemiparese
  • Dilatasi pupil ipsilateral
  • Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler )
  • Penurunan nadi
  • Peningkatan suhu

2)    Perdarahan Subdural

Pengumpulan darah diantara duramater dan dasar otak, suatu ruang yang pada keadaan normal diisi oleh cairan. Hematoma subdural dapat terjadi akut, subakut atau kronik. Tergantung ukuran pembuluh darah yang terkena dan jumlah perdarahan yang ada. Hematoma subdural akut d hubungkan dengan cedera kepala mayor yang meliputi kontusio dan laserasi. Sedangkan hematoma sub dural sub akut adalah sekuele kontusio sedikit berat dan di curigai pada pasien gangguan gagal meningkatkan kesadaran setelah trauma kepala. Dan hematoma subdural kronik dapat terjadi karena cedera kepala minor dan terjadi paling sering pada lansia.

Gejala – gejalanya :

  • Nyeri kepala
  • Bingung
  • Mengantuk
  • Menarik diri
  • Berfikir lambat
  • Kejang
  • Udem pupil.

3)    Perdarahan intra cerebral

Hemoragi intraserebral adalah perdaraan ke dalam substansi otak. Haemoragi ini biasanya terjadi pada cedera kepala dimana tekanan mendesak ke kepala sampai daerah kecil (cedera peluru atau luka tembak; cedera kumpil).

Gejala – gejalanya :

  • Nyeri kepala
  • Penurunan kesadaran
  • Komplikasi pernapasan
  • Hemiplegi kontra lateral
  • Dilatasi pupil
  • Perubahan tanda – tanda vital

 

E.   PATOFISIOLOGI  CEDERA KEPALA

Menurut Tarwoto, dkk (2007 : 127) adanya cedera kepala dapat mengakibatkan kerusakan struktur, misalnya kerusakan pada parenkim otak, kerusakan pembuluh darah, perdarahan, edema, dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis tripospat, perubahan permeabilitas vaskuler.

Patofisiologi cedera kepala dapat digolongkan menjadi 2 proses yaitu cedera kepala primer dan cedera kepala sekunder. Cedera kepala primer merupakan suatu proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi dampak cedera jaringan otak. Pada cedera kepala sekunder terjadi akibat cedera kepala primer, misalnya akibat hipoksemia, iskemia dan perdarahan.
Perdarahan serebral menimbulkan hematoma, misalnya pada epidural hematoma yaitu berkumpulnya antara periosteum tengkorak dengan durameter, subdural hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter dengan sub arakhnoid dan intra serebral hematom adalah berkumpulnya darah di dalam jaringan serebral.
Kematian pada cedera kepala disebabkan karena hipotensi karena gangguan autoregulasi, ketika terjadi autoregulasi menimbulkan perfusi jaringan serebral dan berakhir pada iskemia jaringan otak,
Gambaran mengenai masalah keperawatan yang mungkin muncul pada kasus

(Sumber : Arif Muttaqin, 2008)

 

 

 

 

F.    PENGELOLAAN PRA RUMAH SAKIT RUJUKAN (DENGAN SARANA BEDAH SARAF)

Ikuti protokol trauma.

1.    CEDERA KEPALA RINGAN

Definisi: Pasien bangun, dan mungkin bisa berorientasi (GCS 14-15). (Tidak termasuk pasien sadar kelompok cedera kepala berat).

Pengelolaan setelah pasien distabilkan :

a.    Riwayat : Jenis dan saat kecelakaan, kehilangan kesadaran, amnesia, nyeri kepala, perdarahan hidung/mulut/telinga, kejang

b.    Pemeriksaan umum untuk menegakkan cedera sistemik

c.    Pemeriksaan neurologis

 

Kriteria Transport ke Rumah Sakit Non Pusat Trauma:

a.    Amnesia post traumatika jelas

b.    Riwayat kehilangan kesadaran

c.    Penurunan tingkat kesadaran

d.    Nyeri kepala sedang hingga berat

e.    Intoksikasi alkohol atau obat

f.     Tanda-tanda Fraktura tengkorak

g.    Kebocoran CSS, otorrhea atau rhinorrhea (cedera kepala berat)

h.    Kejang

i.      Cedera penyerta yang jelas

j.      Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggung-jawabkan

 

Dipulangkan :

a.    Pasien tidak memiliki kriteria rujuk

b.    Beritahukan untuk kerumah sakit bila timbul masalah dan jelaskan
tentang ‘lembar peringatan’

c.    Rencanakan untuk kontrol kerumah sakit dalam 1 minggu

2.    CEDERA KEPALA BERAT

PENILAIAN PADA CEDERA KEPALA BERAT

1.    OKSIGENASI DAN TEKANAN DARAH

Hipoksemia (saturasi Oksigen Hb arterial < 90%) atau hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mm Hg*) adalah parameter yang nyata berkaitan dengan outcome yang buruk

Oksigenasi darah : Prosentase saturasi oksigen darah diukur dengan oksimeter denyut nadi (bila ada).

Tekanan darah sistolik dan diastolik diperiksa sesering yang dimungkinkan dan dimonitor secara berkelanjutan.

Kerusakan otak sekunder pada cedera kepala berat sering terjadi dan sangat mempengaruhi outcome.

2.    SKOR SKALA KOMA GLASGOW

GCS adalah indikator beratnya cedera kepala terutama dalam kaitannya dengan perbaikan atau perburukan pada pemeriksaan berulang. Penilaian tunggal GCS tidak dapat memprediksi outcome, namun perburukan 2 poin dimana GCS sembilan atau kurang menunjukkan cedera serius. Skor 3-5 : outcome buruk.

GCS didapat dengan berinteraksi dengan pasien, secara verbal atau pada pasien yang tidak ikut perintah dengan rangsang nyeri pada pangkal kuku atau anterior ketiak dll. GCS dinilai lagi setelai penilaian inisial (pada penilaian inisial dapat digunakan AVPU : cepat, namun tidak menampilkan kuantitas motorik), setelah jalan nafas terkontrol, setelah resusitasi ventilatori dan respiratori. Hipoksemi dan hipotensi berdampak negatif terhadap GCS. GCS dinilai pula sebelum pemberian sedatif atau agen paralitik, dan setelah obat-obat tsb. dimetabolisasi.
GCS inisial 3-5, atau perburukan dua poin atau lebih memprediksikan outcome buruk. 20 % dengan GCS 3-5 hidup, 8-10 % dengan hidup yang fungsional.

3.    PUPIL
Pupil asimetri : perbedaan kiri dan kanan ≥ 1 mm. Pupil yang tidak bereaksi terhadap cahaya : reaksi tidak ada atau kurang dari 1 mm. Perhatikan pula adanya trauma orbital.
Nilai apakah pupil satu atau kedua sisi tidak bereaksi terhadap cahaya. Apakah satu atau kedua sisi berdilatasi. Apakah satu atau kedua sisi tidak bereaksi terhadap cahaya dan berdilatasi.

Pupil dinilai lagi setelah resusitasi dan stabilisasi.
Pemeriksaan pupil inisial bersama dengan GCS merupakan dasar evaluasi. Kelainan pupil membantu menentukan tindakan, terutama bila berdilatasi unilateral atau, berdilatasi dan tidak bereaksi terhadap cahaya bilateral, mengarahkan pada herniasi otak yang memerlukan tindakan darurat untuk menurunkan tekanan intrakranial. Konstriksi terhadap cahaya adalah fungsi simpatik. Rangsang cahaya berakibat respons direk (ipsilateral) dan respons konsensual (kontralateral), tergantung intaknya sistem aferen yang membawa sinyal dari retina ke otak tengah, serta sistem eferen parasimpatik pada bagian luar saraf ketiga dari otak tengah ke pupil. Nuklei saraf ketiga di otak tengah terletak dekat area yang mengatur kesadaran dibatang otak. Karenanya pemeriksaan pupil sangat penting pada pasien dengan gangguan kesadaran. Saraf ketiga keluar dari otak tengah dibawah unkus, bagian lobus temporal, dan terancam untuk terkompresi sebagai akibat edema, perdarahan intrakranial, dan hematoma epidural atau subdural. Kompresi saraf ketiga unilateral menekan jalur eferen refleks pupil, menghambat respons cahaya langsung, disaat respons konsensual utuh. Hipoksemia, hipotensi dan hipotermia juga berhubungan dengan dilatasi serta reaksi cahaya pupil. Trauma langung pada saraf ketiga disertai tidak adanya trauma intrakranial yang nyata bisa menyebabkan kelainan pupil walau biasanya disertai dengan kelainan motorik saraf ketiga. 70 % pasien dengan pupil berdilatasi bilateral mengalami outcome buruk. Peneliti lain mendapatkan 91 % tewas. 54 % pasien dengan refleks cahaya negatif pulih dengan baik.

TINDAKAN TERHADAP CEDERA KEPALA BERAT

1.      JALAN NAFAS, VENTILASI DAN OKSIGENASI

Hipoksemia (apnea, sianosis atau saturasi oksigen Hb arterial [SaO2] < 90 %) harus dicegah atau segera dikoreksi. Bila ada, saturasi oksigen dimonitor sesering mungkin atau berkelanjutan. Hipokesemia dikoreksi dengan memberikan oksigen suplemen.
Jalan nafas harus diamankan pada GCS < 9, ketidakmampuan mempertahankan jalan nafas adekuat, atau bila hipoksia tidak terkoreksi dengan oksigen suplemen. Intubasi endotrakheal paling efektif mempertahankan jalan nafas.
Hiperventilasi profilaksis rutin harus dicegah. Indikasi dilapangan hanya bila terjadi herniasi otak seperti posturing ekstensor atau kelainan pupil (asimetrik atau tidak bereaksi) yang masih tampak setelah hipotensi atau hipoksemia dikoreksi. Normal ventilasi (dengan intubasi dan ventilator bila ada) sekitar 10 X/menit untuk dewasa, 15-20 X/menit pada anak-anak, dan 20-30 X/menit bagi bayi. Hiperventilasi ditentukan sebagai 20 X/menit bagi dewasa, 30 X/menit bagi anak-anak dan 35-40 X/menit bagi bayi. Hiperventilasi dianjurkan sebagai tindakan primer dilapangan karena mudah dilakukan dan berefek segera. Hiperventilasi menurunkan tekanan parsial arterial dioksida karbon (PaCO2) dengan akibat vasokonstriksi, menurunkan aliran darah serebral (CBF) dan menurunkan tekanan intrakranial (ICP). Namun hiperventilasi dini profilaktik tidak lagi dianjurkan sebagai tindakan rutin, karena pada pasien cedera otak traumatika biasanya aliran darah serebral turun menjadi dua pertiga dari normal dan hiperventilasi lebih menurunkan aliran darah serebral hingga berpotensi mencapai titik iskemia otak, hingga memperburuk perfusi otak dan outcome pasien. Hiperventilasi dilakukan hanya sementara sampai pasien tiba di pusat bedah saraf dimana analisis gas darah akan menuntun tingkat ventilasi.

2.  RESUSITASI CAIRAN

Resusitasi cairan pada pasien cedera otak traumatika adalah untuk mencegah hipotensi dan / atau membatasinya pada durasi sesingkat mungkin. Hipotesi adalah bila tekanan darah sistolik ≤ 90 mm Hg. Pada anak dengan cedera otak traumatika bera,t usia 0-1 tahun : < 65; usia 2-5 tahun : < 75; usia 6-12 : < 80 dan usia 13-16 < 90 mm Hg.

Terapi cairan diberikan untuk menunjang kinerja kardiovaskuler untuk mempertahankan tekanan perfusi serebral yang adekuat dan mengurangi peluang kerusakan otak sekunder. Paling umum di pra rumah sakit digunakan kristaloid isotonik. Diberikan sejumlah yang dibutuhkan dalam mempertahankan tekanan darah normal. Volume cairan yang tidak adekuat atau dibawah daya resusitasi dapat mempresipitasi hipotensi mendadak hingga harus dicegah. Resusitasi hipertonik dengan salin hipertonik dengan atau tanpa dekstran memberikan hasil menggembirakan. Tidak ada bukti bahwa mannitol bermanfaat pra rumah sakit, kecuali pada pasien dengan peninggian tekanan intrakranial jelas.

Di UGD, tekanan perfusi serebral tidak dapat dihitung karena di pra rumah sakit tekanan arterial rata-rata (MAP) dan tekanan intrakranial (ICP) tidak dihitung. (Bahkan mungkin juga di UGD nya sendiri). Frekuensi denyut jantung dan tekanan darah digunakan sebagai pengukur indirek pengangkutan oksigen pada fase pra rumah sakit dan juga pada evaluasi inisial di UGD. Pengukuran ini kasar hingga sering tidak menunjukkan hubungan yang baik dengan kehilangan darah, namun tidak ada tindakan lain yang dapat menilai kehilangan darah secara akurat. Otoregulasi sering gagal pada cedera kepala, meningkatkan keterancaman otak atas berkurangnya preload. Bila gagal curah jantung, pengangkutan oksigen juga gagal. Intervensi resusitatif dimulai segera untuk mencegah turunnya tekanan darah. Kehilangan darah sulit dinilai hingga tampil hipotensi. Sayangnya hipotensi tidak jelas bisa ditentukan, misalnya bagi kebanyakan orang 90 mm Hg, bagi orang lain mungkin 80 atau 100.

Karena penyebab hipotensi umumnya sekunder atas perdarahan atau kehilangan cairan lainnya, maka volume intravaskuler tampaknya cara terbaik untuk memperbaiki tekanan darah. Kristaloid untuk memperkuat preload jantung, mempertahankan curah jantung (CO), tekanan darah dan pengangkutan oksigen perifer. Dianjurkan infus cepat 2 liter RL atau salin normal sebagai bolus inisial pada dewasa. Pada pasien tanpa cedera kepala, pikirkan bahwa resusitasi tanpa hemostasis bedah menyebabkan kehilangan darah sekunder akibat bergesernya klot hemostatik. Begitu pula hemodilusi yang terjadi dapat memperburuk keadaan pada trauma tertentu seperti trauma penetrasi torso. Karenanya resusitasi cairan ideal adalah tidak menyebabkan kehilangan darah sekunder dan hemodilusi.

3.  TINDAKAN TERHADAP OTAK

Herniasi serebral : Tanda-tandanya adalah gangguan kesadaran serta tidak adanya respons, termasuk posturing ekstensor, pupil berdilatasi, tidak bereaksi terhadap cahaya atau perburukan neurologis progresif (penurunan GCS lebih dari dua poin dari sebelumnya pada pasien dengan GCS inisial < 9).

Hiperventilasi adalah intervensi jalur pertama terhadap pasien tersangka ancaman herniasi otak. Status neurologis memerlukan penilaian berulang dan bila diikuti hilangnya tanda-tanda herniasi otak, hiperventilasi dihentikan.

Mannitol pra rumah sakit untuk herniasi otak. Tindakan saat transport pasien : Sedasi, analgesia, dan blok neuromuskuler (sesuai sarana tersedia) berguna dalam mengoptimalkan transport pasien cedera kepala.

Penyebab lain perubahan status kesadaran : Hipoglikemia dilaporkan sebagai pencetus trauma. Hipoglikemia bisa tampil dengan perubahan kesadaran dengan atau tanpa defisit neurologis lain. Dianjurkan pasien dengan penurunan kesadaran yang tidak jelas etiologinya ditentukan glukosanya secara cepat atau diberikan glukosa secara empiris.

Cedera neuronal bisa akibat trauma inisial (cedera primer) atau akibat mekanisme indirek (cedera sekunder) seperti hipoksemia, hipotensi dan edema serebral. Juga bisa akibat keadaan yang bersamaan seperti hipoglikemia atau keracunan obat. Tujuan resusitasi adalah mempertahankan perfusi otak dan meminimalkan cedera neuronal.

Mannitol efektif mengurangi tekanan intrakranial dan dianjurkan untuk mengontrol peninggian tekanan intrakranial. Namun belum jelas manfaatnya pada pasien tanpa tanda-tanda herniasi otak. Walau mekanisme kerjanya kontroversi, manfaatnya adalah bahwa mannitol merupakan plasma expander kerja cepat dan efek osmotik diuretiknya. Sebagai plasma expander ia akan menurunkan hematokrit dan viskositas darah dengan akibat meningkatkan aliran darah otak dan meningkatkan pengangkutan oksigen ke otak yang merupakan dasar resusitasi otak. Efek osmotiknya pada awalnya mengurangi edema intraseluler hingga menurunkan tekanan intrakranial. Onsetnya setelah 15-30 menit namun bertahan 90 menit hingga 6 jam. Mannitol bisa terakumulasi diotak dengan akibat reverse osmotic shift yang berpotensi meninggikan tekanan intrakranial (karenanya dirumah sakit lebih baik diberikan berulang dari pada infus kontinyu untuk mengurangi kemungkinan komplikasi ini). Potensi komplikasi mannitol lainnya adalah gagal ginjal. Perhatikan juga bahwa mannitol berpotensi menimbulkan hipotensia.

Sedasi dan analgesia adalah kunci penting dalam pengelolaan pra rumah sakit, terutama bila perjalanan memerlukan waktu panjang. Langkah pertama terhadap pasien gelisah atau mengamuk adalah menilai dan mengoreksi hipotensi, hipoksemia, hipoglikemia dan ketidaknyamanan. Bebat mekanik tidak dianjurkan dan meletakkan pasien pada risiko kerusakan fisik. Karena kooperasi pasien penting dalam transport yang aman, berikan agen farmakologis termasuk blok neuromuskuler (bila sarana tersedia).

Pra rumah sakit bisa diberikan droperidol 5 mg intravena. Blok neuromuskuler aksi singkat aman digunakan pra rumah sakit. Rangsang nyeri akan meninggikan tekanan intrakranial, hingga pemberian sedasi, analgesia dan blok neuromuskuler bisa dipertimbangkan, walau bukan tanpa risiko disamping mempengaruhi GCS.

Kadar gula darah kurang dari 80 mg/dl mulai bergejala. Hipoglikemia ringan tampil dengan diaphoresis, nyeri kepala dan kelemahan pada 75 % pasien. Defisit neurologis fokal dan kejang bisa terjadi. Kadar 30 mg/dl tampil dengan konfusi atau delir. Kadar dibawah 10 mg/dl dengan koma dalam yang mungkin irreversibel. Kontroversi terjadi pada akurasi strip pemeriksa, dampak perfusi perifer yang buruk terhadap strip pemeriksa, serta potensi kerusakan akibat pemberian glukosa secara empirik. Dianjurkan memeriksa kadar gula dari pada memberikan terapi empirik, kecuali bila kadar gula tidak bisa didapat dan pasien mengalami gangguan status mental tanpa disertai defisit fokal.

TRANSPORTASI
Semua pasien dengan cedera otak traumatika dengan GCS < 9 langsung dirujuk kefasilitas yang berkemampuan pemeriksaan CT segera, fasilitas bedah saraf memadai, dan fasilitas pengamat tekanan intrakranial (bila ada) serta kemampuan menindak hipertensi intrakranial.

Pasien dengan GCS 9-13 berpotensi mengalami cedera intrakranial dan tindakan bedah saraf, hingga harus dirujuk kepusat bedah saraf.

Sebagian kematian akibat cedera adalah tanggung-jawab cedera kepala. Transportasi merupakan bagian penting yang mempengaruhi outcome. Langkah yang berpengaruh pra rumah sakit adalah : Informasi lengkap yang dikumpulkan petugas pra rumah sakit dan yang diminta petugas rumah sakit rujukan seperti apakah pasien sadar, dapat berbicara, membuka mata, atau menggerakkan ekstremitas dapat membantu menentukan adanya cedera otak.

Penilaian pra rumah sakit atas mekanisme, jenis dan beratnya cedera (parahnya kerusakan kendaraan, benturan kaca depan, penggunaan sabuk pengaman dan alat pengaman lain), kejadian, dan khususnya pemeriksaan pasien penting untuk menilai situasi neurologis keseluruhan. Tanda-tanda vital dan oksimetri denyut nadi bila ada, membantu menemukan hipotensi dan hipoksemia. Skor GCS dan kondisi pupil memberikan informasi beratnya cedera otak.

Berdasar penilaian pasien, intervensi pra rumah sakit dimulai untuk mencegah hipotensi atau hipoksemia serta potensi yang mengancam hidup atau kecacadan lainnya. Disini tingkat keterampilan penolong sangat menentukan mutu intervensi.

Rumah sakit penerima juga menentukan outcome.
Beberapa faktor berpengaruh pada tindakan yang optimal. Untuk perkotaan, waktu tanggap pendek, rumah sakit banyak, waktu transport singkat, berakibat tindakan lebih cepat dan dekat. Namun dikota UGD lebih sibuk, jalanan macet, dan protokol mungkin tidak mengizinkan jalan pintas kepusat trauma lain.
Didaerah yang jauh dari pusat trauma, petugas harus diberi kemudahan memanfaatkan alat transportasi yang lebih cepat. Bila sarana bedah saraf tidak tersedia, bawa dulu kefasilitas terdekat untuk stabilisasi pasien, untuk selanjutnya tergantung kebutuhan. Lakukan penilaian neurologis berulang untuk mengevaluasi atau menemukan setiap perubahan kondisi dan status neurologis pasien selama perjalanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ALGORITMA PENILAIAN DAN TINDAKAN TERHADAP CEDERA OTAK TRAUMATIKA (COT) PRA RUMAH SAKIT

 (DENGAN FASILITAS BEDAH SARAF).

Nilai, stabilkan dan tindak pasien berdasar protokol resusitasi dengan memprioritaskan penilaian dan tindakan atas jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi.

Setelah stabilisasi ABC, nilai pasien dengan bertanya : “Kenapa anda”.
Bila pasien bisa membuka mata, periksa GCS. COT moderat (GCS 9-13) dan COT berat (GCS 3-8) harus ditransport kepusat trauma.

Bila pasien tidak membuka mata, tekan pangkal kuku atau cubit kulit anterior aksila untuk merangsang buka mata.

Bila dengan rangsang nyeri tsb. pasien membuka mata, nilai seksi verbal dan motor dari GCS untuk mendapatkan skor total.

Pasien yang tidak responsif dengan GCS 3-8 harus ditransport ke pusat trauma dengan kemampuan : CT scan 24 jam. Sarana bedah saraf dan kamar operasi 24 jam.

Kemampuan monitor tekanan intrakranial (bila ada) dan tindakan terhadap peninggian tekanan intrakranial. Pasien GCS 14-15 ditransport ke rumah sakit non pusat trauma, dengan UGD berkemampuan resusitasi segera pasien kritis.

Pasien yang tidak membuka mata terhadap rangsang nyeri langsung ditransport ke pusat trauma tsb. Pasien yang tidak responsif namun bereaksi atas rangsang nyeri pada pangkal kuku dengan posturing ekstensor, atau pasien yang flaksid, amankan jalan nafas (usahakan intubasi) dan hiperventiasi (20X/menit untuk dewasa, 30X/menit untuk anak-anak, 35-40X/menit untuk bayi).

Pasien yang tidak responsif namun bereaksi atas rangsang nyeri pada pangkal kuku atau cubitan ketiak dengan fleksi abnormal atau respons motor GCS lebih tinggi, namun dengan pupil asimetris dan atau berdilatasi dan tidak bereaksi cahaya, lakukan hiperventilasi sda.

Semua pasien COT nilai oksigenasinya tiap 5 menit serta saturasi O2 nya dipertahankan > 90. Tekanan darah sistolik dipertahankan diatas 90 mm Hg pada dewasa dan usia 12-16; 80 mm Hg bagi usia 5-12; 75 mm Hg bagi usia 1-5; dan 65 mm Hg untuk bayi kurang dari 1 tahun. Karena status neurologis bisa berubah, nilai pasien secara lengkap setiap 5 menit dan tindak atau ubah tindakan bila perlu.

 

 

Renungan Qolbu

Standard

tidak boleh menginginkan kepunyaan orang lain melainkan dua macam orang yang yang diberi oleh Allh kekayaan maka dipergunakan untuk membela hak kebenaran dan oarang yang diberi oleh Allah ilmu pengetahuan hikmah maka diajarkan kepada orang lain…..Writen By: saibullah Cs Eor-Aer

Standard

KUCI SUKSES DALAM HIDUP


A.BERDOA/SOLAT SERAJINNYA, SERING PIJIT DAN ELUS ELUS IBU DAN BAPAK, CUCIKAN PAKAIAN IBU DAN BAPAK, CUCI KAKI IBU BAPAK, BANTU KERJA IBU DAN BAPAK, SERING CIUM TANGAN IBU DAN BAPAK JAGAN BOHONG PADA IBU DAN BAPAK……..BANYAK NGAJI BACA ALQURAN…..SERING MEMBERI SESUATU PADA ORANG LAIN…………………..DAN JANGN NAKAL YAAAAA
B.TEKUN/ULET/TELATEN/JANGAN CEPAT BOSAN
C.MALU PADA DIRI DAN ORANG LAIN JIKA BERBUAT TIDAK BENAR
D.SABAR JANGAN CEPAT MARAH
F.BANYAK TEMAN TAPI TEMAN YANG BAIK JANGAN PILIH TEMAN YANG MERUSAK JIKA DAPAT TEMAN YANG MERUSAK TINGGALKAN
G. KUNCINYA CERDAS IQ: INTELEGANCIA QUATION=OTAKPINTAR…RELAGION QOUTIUN; RQ=KECERDASAN RELIGI AGAMA….ADVERSATION QUASITION; KERCERDASAN HIDUP: PANTANG MENYERAH…..EQ;EMOSIONAL QUOSITION/ SABAR ;;;;;;;;SQ;SOSIAL QUOTATION= PINTAR BERGAUL JANGAN CUEK PADA ORANG LAIN……..SENANGI ORANG APAPUN ORANGNYA::::::::::TERPUJI OLEH ORANG TERPUJI DI PUJI OLEH ORANG TIDAK TERPUJI